Dear Ami #21 Belanja Buku

Sungguh aku tidak mengerti kenapa mengalihkan diri dari bahasa-bahasa ilmiah tentang perkembangan anak dan analilis kegiatan pembelajaran adalah sesuatu yang “alhamdulillah”. Rasa kangen menulis sesuatu yang apa adanya tanpa bahasa-bahasa ilmiah macam itu mendadak muncul. Di benakku mungkin hanya ada itu saat ini, juga bayangan wajahmu. Iya kamu yang selalu mengkhawatirkanku.

Minggu lalu kita sepakat untuk jalan dan belanja, setelah semalam aku merengek menginginkan buku-buku baru. Karena itu akhirnya aku bisa membujukmu untuk pergi ke toko buku setelah lama tidak menginjakkan kaki kesana. Aku juga sudah lama tidak datang ke toko buku, sebagai kompensasi janjiku untuk tidak sembarangan membelanjakan uang untuk buku-buku. Tapi kenyataannya aku memang tidak pernah bisa menolak godaan membeli buku, katamu “walaupun besok nggembel ya nekat aja tuh beli buku.”. Tapi kemarin ternyata bukan hanya aku saja yang tak tahan akan godaan membeli buku. Dirimu juga! Tak tanggung-tanggung, nominal belanjaan yang menyentuh angka satu juta itu ternyata justru melegakan sekaligus menyesakkan. Hahaha. Lega karena akhirnya bisa puas membeli buku-buku dalam jumlah banyak meskipun masih banyak list judul buku yang ingin dibeli. Menyesakkan bukan karena jumlah uang yang banyak dikeluarkan untuk berbelanja melainkan jumlah uang yang terlalu sedikit dialokasikan untuk membeli buku. Hahaha. Stress? Mungkin orang lain berpikir begitu dengan kebiasaan ini. Tapi sudahlah, bukankah membelanjakan uang untuk membeli buku adalah sebuah kekayaan? Investasi masa depan. Kilahku.

Aku mendadak merasa harus bertanggung jawab karena berhasil menjinakkanmu untuk belanja buku hari ini. Padahal beberapa bulan yang lalu, aku pernah dengan begitu naif berjanji padamu. Sebuah janji besar yang aku seratus persen yakin tidak akan pernah bisa aku tepati. Aku bilang “Iya aku janji untuk nggak bandel lagi abisin duit buat belanja buku banyak-banyak.”. And what happend today? Like a comedy. Kita saling beradu pandang lalu tertawa. Aku… mengamatimu dan melihat kesedihan sekaligus kebahagiaan lebih jelas dari siapapun. Aku disampingmu dan aku mengamati setiap detil keinginanmu. Dan kau mengijinkannya.

Janji yang pernah kuucapkan itu tidak pernah sekalipun terdengar keren. Walau aku tahu tujuanmu untuk membuatku berjanji seperti itu untuk kebaikanku. Aku tahu itu. Tapi… tapi… entah apalagi yang harus aku rasakan selain rasa tersiksa karena tidak membeli buku saat datang ke toko buku.

Pandanganmu mengisyaratkan sedu. “Kenapa?” tanyaku dan tanpa aku minta kau memberikan jawaban, aku melanjutkan “Sudah nikmati aja, kita juga butuh buku-buku ini kan, Mi…”. Batinku, semoga kalimat itu dengan segera bisa menghentikan sedu dan khawatirmu.

Kutinggalkan kau dari lorong-lorong rak buku itu dan berbicara sendiri “Sepertinya aku harus berdoa lebih khusyuk. Meminta Tuhan untuk menghadirkan rejeki yang berlimpah sehingga membebaskan kita untuk membeli buku-buku. Aku tak ingin lupa dengan kebaikanmu, semoga Tuhan juga berbaik hati memperkenankanku untuk lebih pandai tersenyum dan merayu, supaya aku tak dihukum ketika membuatmu marah. Supaya tak ada lagi yang bisa kau khawatirkan dariku.”

I Love You, Ami…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s