Sibuk vs Prestasi

Sekedar sibuk tak berarti berprestasi

Sering melihat orang yang dalam hidupnya sangat sibuk sekali tapi nyaris tak satupun melihat prestasi yang ditorehkannya? Kita mungkin sering menilai orang dari apa yang sering kita lihat di kesehariannya. Tapi ternyata hal itu tidak berbanding lurus dengan sebuah prestasi. Alih-alih melihat bagaimana capaian prestasinya, melihat hal itu mungkin kita akan lebih mudah mengatakan “dia sok sibuk”.

Kemampuan mengatur aktivitas sehari-hari bisa jadi salah satu keahlian penting memimpin diri sendiri. Kita mungkin bisa menilai orang lain dari niat baik yang kita miliki. Tapi tak jarang orang lain justru menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan. Niat baik saja tidak serta merta membuat orang lain memiliki reputasi yang baik pula. Nama baik adalah serangkaian tindakan nyata disertasi prestasi.

“Tapi kan masalahnya waktu hanya 24 jam? Itu sangat kurang sekali untuk mengerjakan banyak hal?”. Kita sering mengatakan hal itu berulan-ulang, padahal tahukah kita bahwa masalah terbesar sebenarnya adalah kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Kebiasaan itu secara tidak langsung akan membuat prioritas pekerjaan dan aktivitas yang lain jadi bergeser.

Jadi apa yang kita perlukan? Agar waktu yang dimiliki bisa dimanfaatkan secara efektif, maka setiap hari kita membutuhkan rencana yang tertata dan tertulis. Selain itu kita dituntut untuk memiliki prioritas dan sasaran yang terukur serta batas waktu untuk mencapai target. Nah, dari hal-hal itulah maka kita bisa melihat pekerjaan mana yang bisa dilakukan (do), mana yang bisa ditunda (delay), didelegasikan (delegate) hingga yang tidak perlu dilakukan atau dihapus (drop).

Hanya karena kita bisa melakukan suatu pekerjaan bukan berarti pekerjaan itu harus kita lakukan. Kemampuan memilih dan mengukur kapasitas diri untuk menerima beban pekerjaan ada di tangan kita. Barangkali pilihan yang tepat akan membuat kita punya kebebasan untuk fokus pada satu pekerjaan dengan hasil yang maksimal.

Selamat bekerja!

Gubahan dari rubrik Leadership Insight dalam buku Lead Like A Tour Leader Karya Eddy Efendy & Paulus Winarto

Advertisements

2 thoughts on “Sibuk vs Prestasi

  1. Hai, Far..

    Aku sedang bikin eksperimen sosial sama diriku sendiri sejak naik semester 3 nih kwkw.

    Aku lihat, prestasi selalu diidentikkan dengan kemenangan dalam kompetisi, bukti sertifikat dan piala. Dan dengan itu semua, aku mencoba dengan diriku sendiri, gimana jika aku terus bergerak tanpa peduli anggapan predtasi dari banyak orang itu. Hasilnya, hingga sekarang portofolioku bertahan isinya bakalan cuma nama sama TTL kwkw. Tapi, aku akan terus bergerak karena jalan yang sok antitesis begini emang udah pilihan dari awal kwkw.

    Like

    1. bahkan memilih untuk tidak dipilih adalah sebuah pilihan, bukan? so enjoy your moment, take your chance, mbak. But for me, pengargaan memang bukan tujuan, tapi bisa dijadikan ukuran bahwa telah terjadi perubahan yg positif. hehehe. thankyou udh mampir…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s