Terserah: Tak Mau Menyerah

Kita berbeda pandang soal sudut terbaik menemukan hidup. Bagimu, melemparkan diri di keramaian adalah keniscayaan dan jalan untuk menemukan kebahagiaan. Sedang aku, mengerucutkan badan di pojok kamar sambil mendekap buku-buku adalah pilihan paling hangat untuk memeluk duniaku. Sepertinya, kita berbeda langit-langit. Kamu biru dan aku bercat abu-abu. Tanpa diduga, ketidaksengajaan menghadapkan kita pada satu pelukan yang bisa disimpulkan sebagai: Cinta.

Apa yang sama soal kita? Kita memilih duduk berdua di tempat yang tak biasa dipikirkan. Oleh ketidaksengajaan dan pilihan tak biasa kita ditumbuhkan untuk bersama. Berbagai pertanyaan soal hidup pun mungkin tak bisa kujawab hari ini, pun kamu, beberapa kalimat yang membuatmu disampingku masih terkenang di kepala. Aku ragu, kamupun sedikit tersandung karena perbedaan.

Akankah kita terus bertatap kosong tanpa makna? Menggenggam tanpa rasa?

Baiklah… tapi aku berjanji, suatu saat akan ada waktu untukku memperjelas bagaimana perasaanku padamu. Tanpa basa-basi pun bukan puisi! Hanya kalimat sederhana berbunyi: aku menyayangimu sejak pertama Tuhan mempersilahkan kita bertatap mata.

Hanya dengan itu semoga kau bisa tersenyum rekah, setelah setumpuk perasaan tak bernyawa akhirnya menemukan rumahnya. Betapa bahagianya aku ketika tentu saja kau berpasrah menujuku tanpa mau kalah meski terengah-engah, tak lengah walaupun lelah. Tak mau dipisah walau jarak hanya sejengkah. Tak kutinggalkan walau sedetik sebab tangan dan hatimu hanya aku yang berhak menjamah.

Bukankah itu indah?

Malang, 8 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s