/Kata Kita /Kita Kata/

Di kota ini, semua kata bermuara menjadi kita. Sepotong, sebait, sekali lagi tentang kita. Ada yang melahirkan cintanya pada potongan kata-kata. Tak bisa terhitung berapa banyak kata-kata yang menjelman menjadi kita. Merajai setiap peristiwa dengan kata-kata yang harus kau dengarkan. Kata itu meleburkan dirinya pada keramahan, mengiringi percakapan kita di sepanjang jalan dengan guguran daun pohon angsana.

Kata apa lagi yang kita tunggu? Bahkan sebelum jalanan menjadi karpet guguran pohon angsana, kita telah lebih dulu tenggelam oleh kata-kata tentang kesibukan yang sengkarut dan carut marut.

Suatu hari pada sebuah sore, kita menghitung lagi berapa banyak waktu tersisa yang kita miliki. Ada sepasang kata kita yang saling menemukan, tak lama kemudian kita debatkan. Berusaha menemukan cinta dari cerita-cerita. Meninggalkan jejak-jejak kita dengan tawa yang menggema lalu beranak-pinak sebagai kenangan kita.

Meninggalkan-ditinggalkan-dan tertinggal pada sebuah kota yang jauh terkenang sebagai kata: Sebagai kita.

Pada sebuah kota tentang kita dan nyawa berkata-kata.

Malang, 6 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s