Hati-Hati!

Bagaimana lagi rasanya?

Untuk kesekian kalinya, di tengah hiruk pikuk pekerjaan. Melihat orang-orang melakukan aktivitas mulai A sampai Z. Aku mencoba sedemikian tenangnya ketika mendapati sebuah barang maha penting bagi laptop (baca: charger) hilang. Entah.

Lemes. Mencoba merunut kronologi sedetail mungkin sejak barang itu diduga hilang. Sehari semalam sepertinya masih gagal untuk menemukannya. Kecerobohan yang kesekian kalinya terjadi namun masih sekuat tenaga berusaha untuk tenang dan memikirkan cara-cara terbaik untuk menemukan… yang akhirnya juga bablas ketiduran karena sudah buntu! 

Di hari kedua- meraih segelas air putih dari samping tempat tidur dan tetiba mataku gerimis berharap barang itu segera ditemukan. Kecerobohan level akut ini masih gagal terselesaikan dan bodohnya ah memang bodohnya, masih bertahan dengan egoku agar tak ada satupun yang tahu. Kecerobohan yang sudah lalu-lalu pun berhamburan di kepala, menambah  intensitas khawatir dan perasaan campur aduk. Di tengah ragu-ragu dan hal yang serba terburu-buru, kejadian kali ini benar-benar membuatku tak berdaya.

Pagi di sebuah kursi- aku duduk, sepi, memandangi sekeliling ruangan untuk meraba kembali ingatan dimana barang itu terakhir kali aku letakkan. Berdiri, membuka-buka laci, mengabsen meja satu per satu. Nihil.

Menyerah- tersampaikan sudah, “Charge laptopku hilang…” Pelan, hampir terucapkan tanpa suara. Dengan nada serius dan tatapan mata yang sudah bisa kupastikan membuat aku bungkam seribu alasan, aku diam. Omelan-omelan kesekian tentang kebiasaan ceroboh kali ini membuatku benar-benar khawatir, mataku panas, tanganku gemetar, dan setumpuk berkas di atas meja belum tersentuh. Aku membayangkan tulisan-tulisanku yang tak bisa kumiliki lagi. Argh…

Terakhir- Kuusahakan sendiri pencarian hasil kecerobohan itu. Ke tempat-tempat yang kemungkinan aku jangkau kemarin. Sepandainya aku menahan khawatir dan tangis akhirnya pecah juga di hadapan malam. Baiklah… terpikir untuk bisa mengikhlaskan, ya sudahlah. Sesaat itu, berbincang dengan seseorang di luar, duduk dan tertawa sambil terus melupakan. Tak sengaja kepala tertengok ke kiri, di belakang beberapa deret komputer.

“Itu milikku!” teriakku dalam hati.

“Hati-hati, lagi-lagi bikin ulah ya. Kebiasaan banget siy” ucapku menirukan gayamu.

Pamit- Aku pamit dari tempat ini, dari teman-teman yang sebentar saja membuatku tertawa. Hatiku masih basah oleh nasihatnya yang tulus, terbayang untuk memeluk dan membisikkan maaf -kesekian kalinya. Mencoba meloloskan keinginan untuk tak lagi ceroboh dan mengkhawatirkanku.

“Hati-hati!”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s