Kekosongan yang Gerah

Keberanian kita masih sebatas kebohongan. Kejujuran seperti jauh ditelan semua pembenaran. Waktu berlalu dan sedikit saja menyisakan senyum oleh segala sangka yang menggoyahkan doa-doa. Tapi di sana, lambaian kebaikannya sedikit banyak menutupi setiap pertentangan dua sisi hati. Petualanganpun dimulai.

Kamu tahu, satu-satunya ketakutanku adalah kejujuran. Iya. Menyerupai matahari, ia bisa saja menerangi seisi bumi tapi juga tak jarang menyimpan panas yang menyengat bagi beberapa manusia. Lalu seberapa hebat sebuah kejujuran? Barangkali ia begitu hebat hingga harus ditutupi oleh berlapis-lapis kebohongan. Mungkin.

Sejenak aku berhenti, dari tempatku memainkan 10 jari untuk menulis. Perlahan aku menyandarkan kepala di kursi sambil memejamkan mata, memikirkan gerak taktis memencet tombol delete di kepala yang dihuni prasangka kemudian menghela napas panjang.

Aku melihat beberapa kesadaran-kesadaran menarik muncul. Di tengah kebun bernama prasangka yang mulai berantakan itu, ada bunga-bunga kesabaran yang mulai bersemi, benih-benih penerimaan kemudian menyusul, diiringi segala bentuk semangat untuk mengembalikan keharuman perasaan menyayangi. Hingga pada akhirnya nanti bisa kubayangkan semua kebaikan menjadi satu energi yang lebih kuat untuk menjawab kegelisahan. Semua itu mendadak membentuk elegi yang sangat cantik dan menghiasi beranda hati. Seketika aku tersenyum penuh keheranan.

Pikiranku melayang jauh untuk memikirkan betapa konyolnya peristiwa yang ada di hadapanku. Bahwa hal-hal yang… ah menyedihkan itu hanyalah remah-remah kecil yang sebenarnya tak ada apa-apanya dibandingkan berbagai tarian kebahagiaan yang selama ini membersamai.

Perkara-perkara kecil yang menyulut datangnya segala prasangka itu hanyalah taburan kecil di kebun hati. Ia mengisi kekosongan yang gerah sebab di kebun itu sudah lama tak ada yang menyiramkan air, tanahnya tertutupi dahan-dahan pohon yang menghalangi sinar matahari. Kebun itu terlalu gerah dan menyadari betapa inginnya kekosongan itu diisi oleh kebahagiaan adalah kewajiban pemiliknya.

Di suatu waktu yang berbeda, seorang bidadari kecil sedang mengumpulkan pijakan untuk menyirami kebun itu dengan sedikit hal yang ia miliki: ketulusan, harapan dan benih-benih kebaikan.

Jadi siapkan dirimu untuk mengatakan selamat tinggal pada kekosongan yang gerah.

Dan semoga petualangan ini berakhir dengan indah.

Malang, 07 Agustus 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s