Bicara

Cangkir teh pagi tadi memberi kehangatan tersendiri. Tanpa sadar ia membuatku membayangkan tawa yang muncul dari ingatan masa kecil. Senang sekali rasanya bisa kembali mengingat ricuhnya pagi dengan aktifitas sebelum sekolah. Kali ini aku mencoba mengingatnya lagi, lebih detail.

Kali ini aku mengingat bangun tidur dengan suka cita kemudian bergegas cuci muka dan melakukan jalan-jalan pagi bersama keluarga. Pagi di masa-masa itu menjadi sesuatu yang selalu aku ingat. Kubayangkan pula aku yang melompat-lompat senang menaiki sepeda. Bersiap lebih dulu untuk sekolah, sambil menunggu ibu mengantar dan membawakan bekal untuk dimakan nanti.

Aku punya banyak alasan untuk merasa senang. Aku hampir tak percaya berhasil melewati masa itu dengan baik.

Di sekolah, aku tak sendirian. Teman-teman sudah ramai bermain di halaman sekolah. Aku baru saja selesai memarkirkan sepeda di ruangan sebelah kantin. Sebuah tepukan yang berulang mengentikan semua aktifitas anak di halaman. Seingatku, semua berebut untuk berbaris di depan kelas. Aku berjalan melewati barisan begitu saja, karena ingin berada di baris paling depan.

Anak-anak yang lain protes. “Kamu pindah ke belakang. Kamu di belakang harusnya!”

Tanpa bicara kemudian aku mundur, meninggalkan barisan paling depan. Setelah menyanyikan lagu “Naik Kereta Api” dan mengikuti peraturan dari Ibu Guru yang membariskan kami di depan, kami masuk kelas.

Aku merasa terlempar di masa itu, kenangan dan kebahagiaan berbicara beriringan berusaha membuka memoriku lebih tajam. Sepulang sekolah, aku dan Ibu tak bergegas pulang. Sampai di depan sebuah ayunan, aku berhenti. Aku duduk tepat di ayunan berwarna perpaduan merah dan kuning. Aku mengeratkan jariku di kedua sisi ayunan itu, menggerakkan kakiku ke depan dan belakang, mengajak terbang ayunan ini dengan gerakanku. Aku berayun. Kau tau rasanya berayun? Barangkali hanya tawa yang bisa mengajakmu berbicara menjawabnya.

Sebenarnya, aku tak akan pernah lupa masa itu. Berulang kali ingatan tentang itu menyentuh bibirku untuk bicara pada siapapun. Kau tau, bicara adalah satu-satunya tindakan yang tak akan membuatmu tersiksa dan kesepian saat ingatanmu terlempar ke sebuah masa. Barangkali jika aku memilih diam, ingatanku sedang menuju arah berbeda yang tak aku ketahui selain diam. Tapi bicara membuatku menyelesaikan hal-hal yang tak selesai dari sebuah kenangan. Bicara.

***

Kali ini aku bicara, sendirian, menyesap teh terakhir sambil membisikkan sebuah lagu

Pagiku cerahku

Matahari bersinar

Kugendong tas merahku di pundak

Selamat pagi semua

Kunantikan dirimu di depan kelasku

Jangan terlampau keras terhadap dirimu, bicaralah, sepuas kamu tak ingin mengerti bagaimana ingatan masa itu muncul begitu saja tanpa permisi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s