Untuk Sebuah Nama

Apa yang bisa aku nikmati dari sebuah rindu? Ketika perjalanan sanggup membawamu pergi melewati pintu tanpa kembali. Waktu hanya akan mendapatiku tergolek di tempat tidur tanpa semangat. Tak ada yang tahu soal ini.

Kenyataan itu rasanya cukup pedih. Berkali-kali membuatku menangis sampai bahuku terguncang-guncang. Saat itu bagiku menangis adalah hal yang sanggup meluruhkan lara namun kenyataan itu tidak akan sepenuhnya lenyap.

Hal kedua yang kemudian menjadi sangat penting adalah: Gerak. Saat itu aku menyadari bahwa gerak adalah langkah sederhana mengalihkan rindu. Gerak menjadi sebuah tanda bahwa aku masih hidup. Tentang waktu yang mendapatiku tergeletak di tempat tidur tanpa semangat dalam waktu yang cukup lama rasanya menyedihkan. Belum lagi soal airmata yang semakin deras membuat tidurku lebih malam.

Dua bulan itu rasanya mengerikan. Dalam waktu yang cukup lama itu ia mengajarkan kepasrahan sekaligus kesetiaan tentang banyak hal. Melihat lalu lalang orang yang menemuiku, menyodorkan tissue dan untuk beberapa saat meluangkan waktu untukku. Ada yang sekedar datang untuk menjadi kawan bicara dan berkata, “tenang, kau akan tetap baik-baik saja.”.

Sayangnya, yang tak mereka tahu soal ini adalah: mengingat nama itu lebih parah dari sebuah patah hati.

Berapa kali lagi harus tersudut di sofa sambil menangis mencoba menata hati. Membisikkan nama-nama yang kurindu dalam doa, tanpa pamit. Semua akan terus begitu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s