Ah Sudahlah

Allah, sudahkah Engkau tahu keseluruhan diriku yang sering menjadikanmu tiada. Berjalan penuh yakin tergenggam doa atas namamu padahal di bawah kaki bertumpuk sesal atas nama keindahan ego. Pantasnya Kau sebut apa aku ini?

Bagaimana aku harus menjelaskan semua padaMu sedang Kau sendiri tahu, jiwa ini sering tak utuh, munafik di depanmu. Sungguh bahagia orang-orang yang menemukanMu lebih dulu daripadaku. Menemukan sejatinya cinta yang tak pernah alpa. Harapan yang tak pernah putus. Menjadikanmu sebaik-baiknya tempat bersandar.

Lalu aku apa?
Sepasang mata yang mengemis cinta
Sepasang tangan yang meronta bahagia
Sepasang kaki yang meminta dunia
Atau hanya serpihan baik buruk yang meminta dihirup oleh nafas nafas orang lain

Tuhan betapa kau saksikan semua ini sebagai pertanda bahwa diri ini bukan siapa-siapa tapi terus memintamu ada di sela pengakuan cintaku padaMu. Yang ah sudahlah Engkau yang maha tahu. Bahwa aku pun tak pernah sanggup mengukur ketulusan dan kebaikan sesuai takaranmu

Tuhan tidakkah kau saksikan ini begitu kotor dan menggelikan? Pengakuan yang tak pernah tuntas tentang kesalahan yang tak kunjung disudahi

Kemudian, bincang apa lagi yang pantas diperdengarkan? Doa apalagi yang pantas dikabulkan? Sedangkan kau tahu bahwa harapku masih begitu kotor, hanya terbungkus setumpuk dosa yang meminta untuk dimaafkan. Hanya itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s