Dear Mami #15 Pikirkan Apa Adanya

Angin apa yang membawa kesedihan ini merambat sampai ke otak. Mungkin tidak hari ini semua bisa diselesaikan, pun segala kegundahan teratasi. Tapi sampai detik dimana  kamu harus bergerak, lakukanlah. Sekecil apapun langkah akan punya makna. Sepanjang apapun hidup yang tak akan pernah bisa ditebak hasilnya, tak ada yang boleh berhenti.

Tadi aku menatapmu penuh tanya, seolah merasa berdosa atas ketidakmampuanku menerjemahkan senyummu. Aku menatapmu lekat dari jarak yang terbilang cukup jauh, dari kepala sampai ke kaki. Bagaimana bisa aku bohong? Aku mengagumimu. Lupakan soal pesona, kau tak butuh pesona untuk mengundang tangis haruku. Tidak. Jujur saja ada beberapa hal yang tak bisa aku mengerti. Bagaimana aku bisa membencimu sedemikian hebat sekaligus mengagumi tanpa perlu ditegaskan. Aku mungkin yang salah menerjemahkan senyummu waktu itu, aku yang membencimu.

Aku pernah tersipu menjauh darimu untuk berdusta, berdusta atas rasa yang tidak ingin aku akui. Tapi biarlah saja, waktu akhirnya yang akan menghitung mundur siapa yang akan membuktikan. Aku selalu merindukan hadirmu, seerat saat aku selalu menyembunyikanmu karena takut kehilangan. Tapi biarkan saja, aku tak akan membiarkan waktu meninggalkanmu di belakangku.

Rencana tak akan lebih baik dari takdir yang dipilihkan untuk kita. Ketika kebebasan memilih arah menjadi satu sebab yang tak kita tahu alasannya, aku tetap memilihmu disampingku. Dulu saat aku lebih sering tergagap untuk menatap atau berpaling menahan malu, semua terlalu manis untuk sekedar hilang.

Ah, aku tentu merindukan celotehmu, yang hangat. Aku tentu juga merindukan kehadiranmu, yang kaya cinta. Sekali waktu terdengar tawamu yang renyah di telingaku meski kau tak hadir di sampingku. Ingatanku selalu lebih cepat mencari matamu di hatiku. Lalu, detak jantungku berpacu melebihi kecepatan rata-rata. Nyatanya, semua yang tergambar di ingatan sama seperti yang dulu. Mata dan pesona yang membuatku jatuh cinta berkali-kali.

Dan sebanyak apapun aku mulai membayangkanmu, semua tiba-tiba menjadi menyenangkan, membahagiakan dan tentu menggairahkan. Lantas, aku adalah satu-satunya orang yang pantas merawat rindu untukmu, tak akan pergi tanpa pernah berjanji untuk kembali.

Hening. Sementara pikiranku masih melayang-layang hingga awal pertemuan kita pada beberapa tahun lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s