Dear Mami #13 Sisa Kepasrahan

 

Bagaimana bisa perasaan tumbuh sehebat ini setelah sebelumnya tidak ada satupun pertemuan yang kita inginkan. Bahwa awal yang kita mulai adalah sebuah kesempatan menjadikan kita ingin dimengeri dan ingin mengerti satu sama lain. Waktu itu, di kelasmu adalah ruang yang nyaman bagiku berbagi kasih dan kisah di antara kesibukan melakukan apapun di kota yang entah mengapa terlalu dingin tanpamu.

Setelah sekian waktu berlalu, berbagai macam kisah kita ciptakan meski tanpa sepengetahuan satu sama lain. Di sela itu, ada cinta yang kita selipkan sebagai pemanis kegiatan sehari-hari. Tidak ada keraguan apapun kala itu, seolah tahu siapa yang menggerakkan, maka itulah takdir yang diikuti. Dan bagaimana bisa kita sehebat itu mempercayai takdir sebagai suatu yang kita yakini akan terwujud.

Belakangan aku lebih sering menangis, karenamu, menahan semua kegelisahan yang kita titipkan pada keberpasrahan. Pada semua ketidakmampuan kita mengendalikan keadaan, ada keyakinan yang dititipkan pada pasrah. Semua terkumpul menjadi satu molekul yang mengantarkan kita pada apa yang disebut kerinduan.

Aku ingin menitipkan banyak kerinduan untukmu, agar kelak suatu hari nanti tidak ada lagi yang bisa aku sisakan selain banyaknya kebahagiaan dan kenangan yang menggunung memenuhi kebahagiaan di hatimu. Mi, aku hadir untukmu, menjadi segala tawa dan bahagia untuk kau kenang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s