Mami dan Kesendirian

Lantai tiga rumah ini jadi ruang paling sempurna untuk menyendiri. Tak ada lampu-lampu, jendela-jendela, atau atap-atap. Hanya ada jeruji besi sebagai pagar dan satu pintu yang menjadi jalan. Latar ubin pun selalu dingin oleh ceritaku juga kursi yang puluhan tahun menemani menikmati malam. Berkali-kali aku duduk di sini menemukan diriku sendiri tanpa siapapun yang boleh menemani.

Setahun belakangan, aku meninggalkan kebiasaan itu: duduk-sendiri-malam hari. Karena kesibukan di lain kota. Aku meninggalkan lantai 3 tanpa cerita yang sekian lama menjadi bagian yang tak pernah hilang dari kehidupanku. Pada akhirnya kemarin kesepian mengantarkanku duduk di sini lagi, meneteskan tangis sampai dada terasa sesak. Aku terjebak oleh kedinginanmu hingga kurasa setiap kata yang kau ucapkan membuat kata-kataku tak berarti.

Tak ada lagi yang kutahu selain duduk sendiri di sini, meratapi sendiri sesuatu yang terjadi belakangan ini. Soal takdir Tuhan yang tidak pernah salah mengambil apapun yang Allah cintai. Hingga aku pun tidak tahu mengapa kau juga terlalu lelah kemudian ingin sendiri.

Aku berharap kau ingat saat aku terjebak oleh marahku, saat itu aku ingin mengamati malam sendirian. Tapi kau yang tanpa aku tahu apa alasan pasti memintaku untuk tetap bersamamu. Ya, kadang lelah membuatku hanya ingin menikmati keindahan malam bersama diriku sendiri.

Sepertimu belakangan ini, Mi.
Yang aku tahu kini, duduk sendiri di sini menata semua yang biru, walau lelah tapi harus melakukan yang terbaik. Barangkali juga tanpamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s