Dear Mami #11 Alasan

Namun kesetiaan bukan sesuatu yang bisa dibeli hanya dengan gombalan dari seorang anak ingusan yang merindukan kasih sayang. Sekalipun bersumpah atas nama Tuhan, tapi di hadapan Tuhan segala kemungkinan bisa terjadi.

Pagi tadi aku kembali terisak setelah gelagapan karena bangun kesiangan. Aku membalikkan badanku, mengarahkannya sejajar dengan cermin. Aku melihat berbulir-bulir air mata mengalir, tangis tanpa suara di bibir. Aku mengangguk, ‘Aku tidak akan sanggup melepasmu,’ kataku lirih, ‘Aku tahu aku bukan siapa-siapa, bukan anak yang sempurna, bukan teman yang baik. Aku jahat, katamu. Tapi mengapa itu tak kita bicarakan sejak awal? Kenapa kita harus jadi seorang pengecut?’

Buku-buku berserakan di bawah, kertas-kertas tak sengaja terinjak saat kakiku berjalan ke dekat jendela mengambil selembar tissue putih, menggerakkan tanganku mengusap air mata yang mulai deras. ‘Apa tak cukup semalaman menangis?,’ kataku, ‘Aku selalu cemas merespons kisah-kisah seperti ini, aku tak tahu harus menjawab apa, memberi masukan apa. Aku tahu perempuan itu temanmu dan kau tahu aku akan selalu ada di pihakmu hanya karena aku mengenalmu lebih lama darinya. Aku tahu.’

‘Lalu apa yang kaumau?’

‘Pengakuan. Kejujuran? Mi mau aku ada di hadapanmu dan mengaku bahwa aku tidak akan meninggalkanmu?’ Aku bertanya yang aku jawab-jawab sendiri.

Aku mengusap ingus dan tersenyum. Merapikan buku-buku yang berserakan di bawah.

Dan keberanian adalah salah satu bentuk ketulusan. Kita memberanikan diri mengatakan yang sejujurnya tentang bagaimana perasaan-perasaan kita. Mi memenangkan kisah kita malam kemarin. Kisah ini selalu menjadi dongeng kita, sama-sama berjuang memelihara perasaan yang kita tidak tahu akan jadi seperti apa. Sebagaimana kukatakan padamu sejak awal, aku tak ingin ada yang mengganggu kita. Aku tak ingin menyediakan hatiku untuk terus-terusan menjadi korban segala sangkamu dan terus-terusan membuatmu merasa bersalah. Tidak.

Perempuan kerap kali merasa khawatir sendirian. Tapi rasanya sendirian akhir-akhir ini jauh lebih sakit. Aku mengembuskan napas panjang-panjang.

Sebelum nanti aku tiba-tiba muncul di depan rumahmu. Aku ingin sekali lagi memastikan bahwa tak ada yang pasti dari kecemasanmu. Dan aku merasa perlu mempertahankanmu dengan menegaskan pada diriku sendiri bahwa senyummu tidak akan pernah berubah. Aku ingin membuktikan itu, maka kubuka lagi file foto-foto kita di laptopku, tentu akan terasa sedikit melegakan. Pikirku.

Bagimu, rasa-rasanya lebih sakit disodori kenyataan pahit yang kau ketahui dari orang lain. Namun, kenapa tak kau katakan saja dengan terang-terangan apa yang kau takutkan, Mi? Toh aku juga tidak akan pernah bosan mendengarmu menegaskan banyak hal padaku. Aku sering berpikir kenapa keberanian untuk mengungkapkan jauh lebih mudah dikatakan ketika kita sudah merasa lebih sakit? Kenapa kita menjadi penakut?

Aku tidak akan membuatmu merasa mencintai sendirian karena aku juga mencintaimu.

Aku duduk di hadapan meja dengan mata menerawang. Aku mencoba menyisipkan senyuman sebelum menulis personal motivation setiap pagi. Kali ini aku menuliskan namamu di daftar pertama mengapa aku harus berbahagia hari ini: Karena ada mami yang menyayangiku.

Ah, aku selalu punya alasan sempurna untuk tampak baik-baik saja di depanmu. Hari ini, namamu adalah alasan pertama mengapa aku harus berbahagia. Kau tahu itu kan, Mi?

Malang, 3 Mei 2016

Advertisements

4 thoughts on “Dear Mami #11 Alasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s