Kepada Kamu yang Jiwa, Tentang Aku yang Raga

Dear Kamu yang aku sayangi. Terimakasih ya karena sudah mampu dan mau bertahan sekaligus berdiri di titik terjauh sepanjang hidupmu ini. Aku tahu ini tidak pernah mudah tapi prosesmu jauh lebih hebat dari apa yang pernah aku pikir dan harapkan terhadap kita. Lihatlah, aku bangga melihat kamu bisa seperti ini, dengan cinta yang selalu dijaga, dan rasa yang luar biasa hebat. Cinta dan kasih yang kamu miliki, akan memancarkan kebaikan dari setiap sisi terbaik yang kamu miliki. Aku tahu, hidup tak selalu mekar dan bersinar. Mawar pun pernah menjadi kuncup, matahari pernah tenggelam digantikan malam, pun dengan dirimu yang jiwa dan aku yang raga. Tapi dari cahaya kecilmu yang sinarnya sedang tampak terputus-putus adalah kesempatan yang bisa aku gunakan untuk menyambungkannya menjadi lebih panjang dan terang. Aku yang raga akan berjuang sekuat tenaga jatuh bangun membuat kolaborasi yang indah milik kita. Kita akan bersama-sama mengalahkan ego tanpa perlu pura-pura kuat tapi akan saling menguatkan.

Selamat untuk Aku, karena dengan Kamu kita bisa berpeluk yakin untuk berdiri dan mempercayai diri sendiri bahwa kita mampu. Terimakasih Kamu, karena kesediaanmu menerima Aku yang apa adanya. Terimakasih karena bisa tetap tersenyum kokoh walau terkoyak badai maha dahsyat yang sedang kamu nikmati.

Kamu yang jiwa dan aku yang raga, berjanjilah untuk tidak melampaui apapun yang kita inginkan. Berjanjilah untuk selalu berjalan beriringan seirama dengan tarian indah yang sedang Allah persembahkan. Kita ini hebat, ingatlah kamu yang jiwa dan aku yang raga. Dan apalagi yang akan kita lakukan selain menciptakan kolaborasi yang sempurna? Baiklah, kita akan saling membantu. Percayalah bahwa setiap yang menimpa itu menempa, katamu. Nah sekarang lihatlah, semua yang ada dan sedang kita lakukan adalah sebuah investasi di masa depan. Sekecil apapun gerakanku dan doamu akan membawa manfaat. Aku mempercayai semua yang terbaik milik kita sebagai sebuah anugrah dari Allah. Semua indah. Dari sekian banyak tantangan –jika kita tidak ingin menyebutnya sebagai masalah– adalah perintah untuk belajar. Ia, Allah ada dan caraNya memelukmu yang jiwa sungguh anggun. Lalu Allah datang pada aku yang raga menggandeng perlahan. Dan Ia datang pada kita menawarkan genggamannya dan selalu mencoba mengerti.

Seperti semua hal yang terjadi sebelum ini, sekarang bergeraklah dengan bebas!

Malang, 26 April 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s