Dear Mami #7 Sebuah Kritikan

Menulis. Aku mudah melakukannya, semudah menuangkan air ke gelas untuk diminum. Aku bisa menuliskan seribu surat cinta dalam bahasa yang berbeda untuk siapa saja, yang sedetiknya bisa kuteteskan segenap kehangatan sebagai penutup cerita.

Sore tadi, kau meminta beberapa orang juga aku untuk menulis tentangmu, semacam kritikan, berawal dari keinginanmu untuk menilai diri sendiri kemudian memperbaikinya dan bisa jadi menata ulang banyak hal dihidupmu. Bagi sebagian orang, menyuruh orang lain menuliskan tentang kita dipercayai sebagai bentuk koreksi yang paling baik. Bagiku, itu juga sebagai bentuk doa orang lain agar kita lebih baik.

Percayalah tidak ada yang salah dari kesemua itu, tapi maafkan aku, tanganku tak pernah cukup mampu mengkoreksimu, menuliskan banyak salahmu. Pun demikian jika kau minta aku menegurmu, berat rasanya, bagai mulut yang terlalu rapat dikunci yang entah bagaimana harus kubuka. Aku tak tahu. Sekalipun kau paksa aku mengkoreksi letak sudut bayanganmu yang tidak proporsional, aku merasa tak berhak. Mengapa? Kupikir detik2 ini Tuhan sedang menakdirkanku belajar dari banyak hal yang kau kerjakan, sekalipun itu kesalahan. Aku pikir tak ada salahnya menyimpan semua sesal dan sedihku juga kecewaku tentangmu dan apa saja yang kau lakukan dalam doa dan maaf. Aku pikir, dibeberapa kesempatan kau katakan banyak hal yang mungkin tanpa kita sadari dan kita sengaja itu pernah membuatku lemah dan serasa tak berguna apa apa, bisa kuterima dengan legawa sebagai sebuah keniscayaan bahwa aku memang perlu belajar banyak, tentang yang kuyakini bahwa setiap yang menimpa itu menempa.

Aku selalu sanggup menerima se-apa ada nya dirimu. Aku bisa. Bahwa jika ketidakmampuanku menuliskan kekuranganmu atau terlalu terbata bata untuk menyampaikan kecewaku itu menyalahi aturan Tuhan tentang keadilan dan kebenaran yang harus disampaikan, biarlah itu menjadi urusanku sendiri dengan Tuhan untuk tidak mengusik kebaikan dan keburukanmu yang apa adanya itu. Jadi bolehkan kutitipkan saja semua koreksiku dalam doa? Itu satu2nya cara terakhir yang paling ampuh milikku untuk mengampuni salahmu, kecewaku atasmu, pun meluruhkan semua benci bercampur nelangsa atas ketidakmampuanku menegurmu. Maafkan aku.

Kini ketahuilah, akulah orang pertama yang meluruhkan fase-fase yang kita jalani dalam doa. Cukupkah penjelasanku?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s