Pagi yang Lain

Ada yang mengaduh sedihnya pada keramaian. Pada udara  yang dinginnya melebihi percakapan malam hari dari seorang yang membeku hatinya. Tak ada yang bisa menerjemahkan sepinya yang sekian lama menjalar berputar mengelilingi kepala. Mengapa kali ini ia tak pandai membaca duka? Mengapa kali ini sabarnya seolah lari diteriaki sepi? Mengapa…

Mengapa untuk pertama kalinya ia kehilangan keyakinan tentang penerimaan dan hakikat kesabaran. Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 7 tahun ini, ia terpatahkan oleh bahagia yang menjemukan. Ia-kah kini yang baru menyadari semuanya terasa menjemukan, ia yang kehilangan arah, yang tak pedulikan lagi daun gugur sedang mengatakan apa. Di seberang sana tak lagi didengarnya jalanan sebagai nada awal bagi segala pikirnya, ia benar-benar menikmati kebisingan sebagai sebuah kebisingan yang harus dikalahkan. Tak ada cerita kali ini ia berdamai dengan keadaan.

Sepotong roti, susu coklat tanpa gula, lampu remang-remang seperti masih terlalu pagi untuk ditemui, sebab pagi ini ia bangun dengan segala dingin. Dan matahari sempat menggantikan perannya memberikan kehangatan. Pagi ini, pagi menawarkan ketentraman lain, kenyataan lain dan persoalan lain.

Berbeda

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s