Kekuatan Apa Coba?

Di tempat saya sekarang, pendidikan membawa saya menemui banyak orang dengan berbagai latar belakang. Dari kalangan paling rendah sampai kelas profesor yang sering tak saya ragukan keilmuannya. Itulah yang saya pikir mengantar saya mengkaji banyak hal, meskipun kebanyakan memang tak ilmiah. Tapi lama-lama saya bosan juga.

Pertengahan semester ini, tiba-tiba saya berhenti dari langkah yang biasanya agresif, menghilangkan kebiasaan sedikit-sedikit mendekam di perpustakaan, lama-lama menghilang ke toko buku. Walaupun tak jarang banyak yang sering mengirimkan buku-buku baru untuk dibaca, tapi sayang saya sedang tak selera. Kali ini berbagai tujuan yang sudah direncanakan mendadak saya hapus dari otak demi menghalalkan keinginan saya untuk berhenti dari berbagai rutinitas. Tujuan tak lagi jadi sebuah identitas untuk mewujudkan berbagai keinginan. Mengasingkan diri adalah pilihan agar berbagai ide segar kembali mengisi cangkir energi untuk bergerak.

Banyak orang bertanya, “kenapa?”, tak juga saya jawab dengan banyak kata-kata seperti biasanya, namun senyuman adalah satu-satunya bentuk jawaban yang paling bisa saya hayati maknanya. Setiap hari, entah kapan saya mulai memikirkannya, yang ingin saya pecahkan dari pikiran itu sederhana saja yaitu bagaimana saya bisa punya lebih banyak waktu bersama keluarga. Apalagi hampir dua semester ini kami semua (keluarga besar) harus berjuang lahir batin untuk mengobati sakit yang sedang di derita oleh anggota keluarga kami. Allah kemudian menghendakinya untuk berpulang lebih dulu sebagai satu-satunya jalan terbaik yang ada di hadapan kami. Duka dan kematian itu menjadi kesedihan sekaligus kelegaan yang selalu coba kami ikhlaskan. Dan tak hanya sekali ini, mata menyisakan kedukaan sampai membuat orang lain sempat menyimpan curiga, “bagaimana ada orang yang sekuat sekaligus serapuh kamu?”, katanya. Tampaknya mereka berlebihan jika masih menyimpan pertanyaan itu untuk saya jawab.

Kenyataannya, saya tidak sedang menyimpan kekuatan apapun, pun tak serapuh apa yang mereka bayangkan. Tak hanya sekali ini saja, sebelumnya banyak hal yang lebih dulu menyumbangkan pengalaman yang lebih menyakitkan daripada ini. Pernah. Lingkaran itu menyeret saya untuk lebih kuat menghadapi semuanya hari ini, meskipun tidak bisa saya hindari bahwa detik ini, sekali lagi membuat saya harus menepi sendiri menyulam luka satu-per satu. Mendadak saya hanya ingin jadi debu, mengikuti kemana saja angin meniupnya. Mendadak saya hanya ingin jadi angin, terbawa waktu kemana saja ia ingin.

Mendadak saya ingin terlena, sejenak saja, tanpa buku, tanpa sepatu, tanpa bangku-bangku, tanpa harus repot menemui siapa saja yang saya kenal. Kemudian singgah lagi di peraduan, menemui banyak orang, mengisi cangkir pikiran, terbang bersama cerita-cerita mereka.

Kekuatan apa coba yang membuat saya seperti ini?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s