Bincang yang Samar

 

Tepian jendela sebuah cafe itu basah oleh air hujan yang baru saja reda setelah empat jam mengurung tawa. Ratapnya sendu, pandangannya lurus ke sela-sela kaca yang terpercik tetes air. Ia tak henti-hentinya mencium bau luka digandeng sepi sejak tetes pertama hujan turun. Dari pandangannya ke arah kaca yang basah oleh hujan, siapapun akan tahu kalau ia sedang memikirkan sesuatu.

“Apa yang sedang kamu cemaskan?” tanyaku tanpa meminta ia menjelaskan jawabannya. Satu kalimat itu berhasil membuatnya sulit untuk tak menatap ke arahku, mengunci semua perhatianku hanya untuknya.

“Pernikahan, sepertinya.” Jawabnya sambil membenarkan posisi duduknya.

Tangannya entah kenapa selalu gagal menggapai pena yang sejak tadi digeletakkannya di atas selembar kertas putih. Aku diam, tak tahu harus menanggapi apa. Konsep pernikahan terlalu abstrak baginya meski dari segi karir dan relasi bisa dibilang cukup berhasil sampai di titik ini. Jika itu bisa dijadikan ukuran, harusnya sudah sejak lama ia memutuskan menikah bahkan memiliki seorang anak. Untuk ukuran perempuan cantik dan pintar dalam segala hal macam dia itu, tak sulit memilih satu laki-laki yang mengantri di hatinya.

Kemudian ia teguk teh tawar panas yang sepuluh menit lalu dipesannya. Ketika pendingin ruangan di cafe ini tak hentinya membuatku mengeratkan jaket hitam pemberiannya, kuharap tak membuatnya memecah kelopak mata dengan air hangat yang keluar dari sudut mata. Entah, tetes tangisnya membuatku ingin menghambur ke pelukannya.

“Yang kamu cemaskan…”, aku terlalu canggung melanjutkannya, “berarti menambah kekhawatiran untukku. Bahkan untuk sekedar membuat rencana sederhana menenangkan sepi dan sendirimu, aku tak sanggup!”

“Tinggalkan saja aku sendiri, disini!” pintamu tanpa basa-basi.

Aku masih belum mampu berkata apapun di hadapannya, namun ia kembali berucap, “boleh aku minta tolong?”

“Apapun itu”, ucapku menghentikan langkah keluar cafe

“Aku tidak kalah, jadi jangan berbicara seolah menganggapku telah menyerah.” Begitu saja.

“Oh begitu saja? Kamu pernah mengharap Aku menghalau sedihmu lalu Aku kecewakan?”, bulir-bulir air semar-samar kulihat semakin jelas menuruni lembut pipinya.

Ia tampak tersentak mendapati dirinya bangun bermandi peluh dan tangis, bincangnya dengan Tuhan malam itu benar-benar menyulut tanya, pikirnya sedikit gugup.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s