Bertahan

Tulisan ini diawali dengan pertanyaan “untuk apa bertahan?” namun tak ada jawaban. Pengetahuanku tentang itu nyaris nol sedangkan pertanyaan itu selalu lebih jahat mendorongku hampir jatuh dari ayunan. Aku memang payah, sering kali berbohong dan menuntut senang. Sementara pada beberapa hal yang menyakitkan, aku kabur ke jalanan tenggelam dalam lamunan mengikuti arah angin. Kalau sudah cukup tenang, pasti kembali dan menangis sekaligus minta maaf tidak akan menentang lagi. Itu yang aku tahu; bertahan.

Malamnya aku sakit karena kecapekan, mungkin puas menguras air mata. Lain soal jika Ibu, tidak sepertiku. Tidak pernah tanya apa-apa namun tebakannya tak pernah meleset. Aku yakin Ibu suka menungguku diam-diam menyimpan semua kekhawatirannya. Biarlah, meledaklah semua cemasnya di hadapanku yang selalu acak-acakan, berharap satu dua cerita diucapkan. Tak menuntut apa-apa, ia selalu bersikap lembut padaku sekalipun aku sering protes dan mengarang cerita lain untuk dibicarakan demi menghindari kemarahannya yang selalu tidak pernah lebih dari 24 jam. Ia yang selalu bersedia meminta maaf lebih dulu, memelukku dari belakang sambil menangis sesenggukan; bertahan. 

Jangan-jangan bertahan adalah tentang kepercayaan merangkap pengorbanan untuk menyediakan hati lebih luas dari manusia yang lainnya? Bagi ibu, menangkapku yang jatuh dengan pelukan adalah kehangatan sambil ia mengusap-usap lukanya sendiri dengan kesabaran. Ajaibnya, Ibu tak pernah kehabisan paket lengkap untuk bertahan; alasan-cinta-airmata-doa. Apa aku sudah menerimanya dengan lengkap? 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s