Membersihkan Hidup

Sambil menunggu kawan lama yang tanpa buat janji langsung aku paksa untuk bertemu di sebuah tempat makan favorit kami, menjadi silent reader dari artikel yang baru saja di download adalah pilihan, sambil mengarahkan pena kesana kemari menyelesaikan remah-remah pikiran untuk dibaca ulang nanti kemudian diperbaiki.

Kadang-kadang tempat ini begitu bersih dan nyaman untuk mengobrol, sekalinya datang bisa menghabiskan cerita berjam-jam dan aku selalu punya waktu untuk itu. Kali ini aku harus bersabar dan menunggu lebih lama, tak biasanya tempat ini kotor meski aku harus tetap sama mempertahankan diri selama mungkin sampai kamu datang atau lebih lama lagi sampai perbincangan kita selesai dan rindu lunas.

Dengan keadaan yang begini, rasanya terjadi kontradiksi. Aku harus menunggu di tempat yang kali ini tidak nyaman seperti biasanya tapi di kesempatan yang lain ini adalah satu-satunya ruang yang akan membayar janji pertemuan kita tempo hari. Begitulah.

Jangan-jangan ini adalah caraNya… Mungkin.

Selama ini jika apa yang aku anggap membeli kebahagiaan adalah dengan melakukan dan mendapatkan apa yang diinginkan, atau mengejar apa yang disenangi, mungkin aku perlu mengkaji ulang apa itu yang disebut bahagia.

Atau… atau aku yang sudah konyol mengejar standar-standar yang dipegang orang lain?

Kemarin laki-laki tua penjaga pom bensin bercerita padaku tentang sekolah anaknya, tiba-tiba terjadi begitu saja saat aku sedang memakai sepatu di depan mushola. Hidupnya jauh dari deretan gelar dan kerumunan buku, sehari-hari ia berkawan sapu dan kain pel untuk membersihkan mushola dan kamar mandi yang ada di pom bensin. Di luar semua itu ia mengungkapkan kebahagiaannya melihat anaknya sebentar lagi akan bergelar sarjana. Katanya “apapun ya aku lakukan, mbak biar anakku sekolah, aku ya seneng lho.”, “Tapi ya gitu kok ada aja ya anak yang bandel gak mau lihat pengorbanan orang tuanya, aku dulu ga lulus STM nangis mbak, lha anak sekarang tinggal sekolah aja kok rewel!”. Dan seperti biasa aku hanya tersenyum berusaha menjadi pendengar yang baik.

Seringkali di beberapa kesempatan Allah menghadirkan kombinasi yang sempurna antara hati yang hangat dan pikiran yang dingin untuk mempercayai banyak cerita untuk membersihkan hidup dari segala sangka buruk.

Mempercayai bahwa keajaiban akan selalu datang menyelesaikan apa yang diragukan, bahwa semua yang sempat dan sering di adukan, satu per satu akan diberikan jalan penyelesaian meski berkali-kali harus sempat diambil alih oleh air mata terlebih dahulu. Yang salah seringkali aku menggunakan ukuran manusia untuk berlari dan sok-sok an menyelesaikan semuanya sendiri, padahal di sudut yang lain Allah senantiasa menyediakan ruang dan ukuran yang tidak bisa terjangkau akal manusia, ada takarannya tersendiri!

Jika boleh menyimpulkan, ujian-ujian yang Allah hadirkan adalah satu dari ribuan caraNya untuk membersihkan hidup kita. Untuk kita yakini seyakin-yakinnya keterlibatan hati dan pikiran kita adalah dan hanyalah menaikkan level pasrah kita, merapikan ibadah-ibadah kita, menabung ikhtar sekaligus mengepulkan doa-doa sambil membuka hati selapang-lapangnya untuk menerima dan memaknai semuanya. Adalah jauh dari lulus ketika ujian yang belum seberapa itu mengikis spirit ibadah yang sudah bertahun-tahun dibentuk. Hari ini, aku merasa pantas mempertanyakan kualitas ibadah dan hidupku selama ini?

Bagaimana?

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s