Kesengajaan

Sebermula pertemuan itu. Tak ada pengakuan yang diutarakan sepanjang perkenalan. Begitu saja, dua mata menyimpan penasaran diam-diam. Semuanya semakin tidak wajar ketika aku menyeret pikiran keluar untuk menjawab pertanyaan yang kuajukan sendiri. Malam menjadi rumah bagi segala jawaban. Dalam ketenangan yang semakin diam sungguh mudah sekali masuk ke kotak hipotesis yang menyimpan kegilaan bersama keindahanmu.

Kamu datang menyuguhkan ingatan, tentang titik hidupku yang kamu sendiri belum pernah ada di dalamnya. Disulam satu per satu sepasang jalan tanpa ragu dengan ratap yang semakin yakin mengusap peluh satu sama lain. Bagaimana bisa dua orang yang tak pernah saling tatap menyimpan rasa tak tampak yang luar biasa hebat, berusaha menelan kerinduan yang disucikan oleh kesabaran. Tenggorokanku tercekat, masing-masing kita membayangkan apa yang kita bicarakan, dan kamu katakan “aku tak berhak cengeng lagi!” demikian katamu. Terang-terangan niatmu berkasih sayang dalam diam tersampaikan. Tampaknya bagi kita, merasapi diam dalam-dalam cukup jadi isyarat yang membuat kita paham mengapa Tuhan menciptakan alur ini sekalipun kejujuran masih tinggal di selembar keberanian.

Bagi orang lain, semua terlalu sulit untuk diartikan, sekedar meraba pertemuan yang tak lagi menjadi gerak kaku. Perasaanmu dan perasaanku adalah milik kita sendiri. Diam-diam kita saling memecah langit kosong melambungkan doa-doa, kesengajaan yang dipamerkan Tuhan dalam kebetulan.

Meski butiran ragu perlahan runtuh, kita tetap sibuk bertanya dan menanya sampai kapan mengubur diri menatap ganjil hari-hari? Toh, perasaan kita semakin hari tumbuh-meninggi menancapkan yakin di ulu hati?

Kita bagai dua garis lurus yang saling berpegangan tangan dan terus berbicara, tapi sayangnya tidak pernah berusaha berdiri di bawah kerudung badai, sementara luka sering melayang-layang bagai selendang, menyimpan ledakan-ledakan tangis yang lain. Apa lagi yang perlu dijawab dan dipertanyakan? Kesengajaan ini sudah jelas mengejutkan manusia nyinyir. Begitu sukar disiatkan.

Aku menjadi sadar atau berpikir harus menyadari?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s