Kapan Lulus Nulis?

Menyebalkan sekali harus menulis samping tong sampah bercat biru dan kuning yang bau ini. Ingin pergi tapi enggan sebab pagi tadi aku sudah bersusah payah bagun pagi, lari demi wifi sepuasnya di halaman perpustakaan. Sayangnya, tetap saja ada yang lebih rajin datang lebih pagi memburu wifi. Lalu ini satu-satunya tempat yang masih kosong yang bisa aku duduki.

Ada meja-meja kecil, ada dongeng yang harus diselesaikan, ada pertanyaan yang harus segera dijawab. “Kamu kapan mau nulis lagi?” bisik hati pelan, takut kalau-kalau ada pikiran yang kalut untuk segera membuktikan.

“Pertanyaan yang bagus!” jawabku pada diriku sendiri

“Tapi, logika tanpa logistik nggak akan jalan loh. Makan dulu aja deh!” bantahku pelan.

“ah kamu emang gak bisa mempertahankan perutmu kosong sebentar.”

Setelah makan kamu berubah menjadi kapsul berisi remah-remah vitamin yang membuatmu siap bernostalgia dengan kata, sebuah pencarian jiwa katamu.

Aku biasa membahasakan diriku dengan sebutan kamu untuk memudahkan dua tanganku menyirami cerita dengan mulus. Membayar lunas agar segera lulus dari tanya yang sekian tahun di tanam dalam pikiran. Aku pikir setiap saat harus mengisi oksigen untuk memicu perasaan agar tidak tumbang piramida pikiran untuk segera dituangkan.

Apalah nama kegiatan ini, aku sudah menanamnya tapi sering lupa menyiraminya padahal jika memang benar-benar mau melakukan akan terasa menyenangkan. Ada yang ganjil, seperti sebuah rasa yang menampar.

Kamu harus lulus. Kamu harus menulis. Kamu, menyedihkan sekali –kadang-kadang!.

Advertisements

2 thoughts on “Kapan Lulus Nulis?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s