Cerita yang Tertulis Apa Adanya

Lampu jalan mulai menyiramkan cahayanya di sela sesak pengap kendaraan. Dingin, bisikku entah pada siapa. Sejak pagi tadi aku belum pulang. Entah apa lagi, aku merasa telah menguji tenagaku mengumpulkan remah-remah pengalaman di sisa-sisa kehidupan. Di tengah perjalanan, setelah membebaskan diri dari rasa lelah dalam sujud-sujud panjang, aku merasa mendingan, kemudian mencoba mengendapkan pikiran tentang kata-kata Mbak Astuti pagi tadi, berusahalah sebaik-baiknya untuk menaati dan menghormati apapun, termasuk apa-apa yang kamu pikirkan sendiri!, begitu katanya.

Aku berhenti dari pikiranku sejenak, melirik jam di tangan, mencoba berteriak kepada diriku sendiri, Tidak cukup hanya senyum yang aku berikan demi setengah dari satu hari yang ia tinggalkan untuk menemuimu!. Kendaraan digilas kaki waktu, aku mencoba lebih cepat untuk sampai di tempat tujuan yang sudah dijanjikan sebelumnya –meskipun selalu saja kalah cepat alias terlambat karena ini dan itu. Tapi dalam keadaan apapun, tidak pernah ia menemuiku dengan raut wajah kecewa. Tidak pernah ada kesedihan dan kekecewaan yang berpengaruh terhadap ketulusannya melakukan apapun. Meskipun untuk kesekian kalinya aku selalu berkemungkinan mengecewakannya atau membuatnya sedih.

Sudah pukul 19.00, aku baru menemuinya dan senyum belum berhenti dari mulutnya. Terang-terangan aku duduk bengong saja memikirkan kebaikannya yang tiba-tiba saja semakin banyak menggantung-gantung di kepalaku. Waktu itu, teori yang pernah aku perdebatkan sedang tidak baik-baik saja, pertemuan ini mendadak menyeretku pada keyakinan lain tentang bagaimana kasih sayang bekerja. Sekali lagi, aku coba berpikir dan membandingkan berapa banyak kerumunan ego, masalah, dan kesedihan yang berkemungkinan membuatnya tenggelam dalam kecewa, lalu aku buka lagi satu per satu kejadian yang mungkin membuatnya tersenyum. Kedua hal itu saling berdesakan di pelupuk mata, aku mulai menggigil. Semua protes dan ego yang pernah aku utarakan sebelumnya lenyap begitu saja. Aku meliriknya menikmati kopi yang aromanya selalu membuat ia terjaga, aku ingin selalu memotretnya dalam bayangan terbaik yang pernah aku lihat kemudian melampirkannya dalam selembar foto. Barangkali hanya itu yang selalu aku miliki, mengenang semua cerita terbaiknya meskipun sebenarnya belum sepenuhnya mampu membuatnya bahagia, bahwa rasanya setiap doa diam-diamku belum bisa mengganti semua ruang kasih sayang yang diberikan.

Kali ini aku harus memaksa untuk menyediakan diri sebagai panggung tempat semua kisahnya dipentaskan juga kasihnya dicurahkan. Tuhan selalu punya takaran tersendiri untuk mengukur hati dan pikiran manusia, termasuk ketulusan. Tulis saja semua kisahmu apa adanya, niatkan saja untuk berjalan menenun semuanya dengan anggun di hadapanNya, ucapnya sambil meletakkan cangkir di meja kayu. Dan asal aku tahu saja, kasih sayang akan berhenti bekerja dari hati orang-orang yang memerlukan kekecewaan untuk mendidiknya berhenti melakukan kebaikan.

Salam dari aku,

yang selalu mencintaimu dengan segenap prasangka baik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s