Mengalir Sampai Jauh

“Kemudahan adalah milik mereka yang menemui kegagalan, mengisi kekecewaan, dan menikmati luasnya kesabaran lalu berjalan di atasnya sebagai bentuk pelajaran dan peringatan. Lewat semua itu, cukup syukur yang akan jadi jendela penenang pikiran.”

Proyek 30 hari menulis memang akan segera berakhir tapi nuansanya masih terkenang dan tak boleh hilang. Kesempatan memang selalu akan datang mengumpulkan bekal demi bekal yang ditemui di saat perjalanan. Disana sini ide-ide berceceran, di pinggir jalanan, di sela tengokan jendela mobil, di antara riuh sesak penumpang bis, bahkan di antara tangga nada yang dinyanyikan oleh pengamen.

Kemarin jalanan dipenuhi banyak sekali kendaraan. Surabaya siang itu terik dan macet. Jalanan tak ubahnya tumpahan peluh puluhan manusia dengan berbagai tujuan. Pikiran sesak karena dikepung berbagai tarian perasaan. Berpadu dengan waktu yang berjalan maju, kelelahan karena menyelesaikan tugas akhir  menjadi satu alasan kenapa harus berjibaku hampir seminggu tiga kali melintasi Malang-Surabaya dengan angkutan umum.

Aku lumayan bersemangat menemani kakakku waktu itu yang harus segera menyelesaikan tesis dan penelitiannya. Salah satunya karena aku butuh suasana baru untuk melihat hal baru serta menghabiskan waktu luang di sela pulang kuliah. Dengan menaiki becak di bawah terik matahari yang melaju menuju kampus kami membincangkan banyak hal terutama soal kuliner dan itu membuatku berpikir keras ingin makan apa saat itu. Semoga teriknya menguapkan semangat sampai ke ubun-ubun meski perut sudah keroncongan. Antara menyerah dan terus ditantang oleh kewajiban menyelesaikan, segala cara dilakukan demi menumbuhkan lagi semua semangat untuk segera menyelesaikan kewajiban, tuntas.

Berkali-kali perjuangan melawan malas dan mengorbankan apapun dilakukan, berbagai kemungkinan dan kesempatan kemudian terbuka lebar mengalir begitu saja memecah kerasnya rasa malas. Antara rencana dan yang tidak di rencanakan, keduanya membentuk kompilasi yang memancarkan gairah untuk meyakini kemungkinan target waktu terselesaikan. Perlahan langkah ragu-ragu tidak lagi menemani perjalanan karena kesibukan menyelesaikan kewajiban adalah teman perjalanan yang paling menyenangkan.

Kita sering, hmmh mengeluhkan kegagalan dan menerima kekecewaan atas ketidakpuasan terhadap apa yang sudah dilakukan tapi lupa mengambil pelajaran dari proses yang sudah dilewati. Kebanyakan kita takut menerima apa yang akan orang lain katakan tapi justru sebaliknya harusnya kita menaklukkan pertanyaan-pertanyaan itu dengan membuktikan yang terbaik.

Kita memang lelah, tapi ada harga yang dibayar untuk semua lelah itu. Kita saling pandang, menyembunyikan lelah di balik senyuman masing-masing.

So, here I am.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s