Weekend: Membangun Ulang Persepsi

Lha hidup ini memang gudangnya pelajaran lho, kalau masih males-malesan mau belajar ya berarti ada yang salah dengan pola hidupmu. Lha kalau kamu masih aja mengeluh dengan keadaan, ya berarti ada yang salah dari pikiranmu -mengingat kata seorang kawan-

Begitulah, yang tidak habis pikir adalah masih saja kepala dipenuhi banyak tanya sedangkan jika mau mencari ada banyak jawaban yang berserakan di sekitar kita. Satu langkah ke kiri, bisa jadi pilihan yang bagus. Maju ke depan, selangkah lebih maju. Ke kanan sedikit saja, kesempatan terbuka lebar. Semua kebutuhan sebenarnya sudah tersaji di hadapan, ya hanya kitanya saja yang masih berdiri di antara “ya nanti deh dikerjain… nanti deh kapan-kapan”. Kapan mau bergeraknya? Kapan mau mensudahi galaunya?

Malam kemarin ceritanya aku sedang tidak bisa tidur karena badan seperti mau copot saja rasanya setelah jatuh dari tangga, sampai pukul 1 dini hari hanya berguling-guling di kasur sambil bermain game hingga kemudian berpikir untuk menulis dan membaca-baca buku. “Kalau masih saja berpikir yang tidak bisa dilakukan, wah bisa dipastikan nggak akan bisa produktif, kalau masih aja memandang semua masalah ini berat, dimana kamu meletakkan Allah?” pikirku. Berada di antara kegalauan rasanya memuakkan, bukan karena masalah yang melatarbelakanginya tapi lebih kepada ketidakmampuan memanajemen pikiran dan diri sendiri.

Luasnya dunia ini dan waktu yang tidak terbatas seharusnya menjadi ladang bagi aktualisasi diri seluruh potensi yang kita miliki. Maka rasanya kurang tepat kalau masih saja mengeluh ada banyak yang tidak bisa diselesaikan. Perasaan yang tidak tepat rupanya hanya akan merusak sendi-sendi pikiran yang justru semakin menutup pintu kejernihan dan solusi. Ya, sebenarnya kita sering membuat persepsi yang salah tentang apa yang sedang dihadapi, kemudian kebingungan dan memandang berat semua masalah hanya karena kesan yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri.

Agaknya kita memang selalu disibukkan dengan persepsi yang salah dalam hidup, sayangnya beberapa rumus sederhana seringnya dilupakan karena alasan ini dan itu. Tentu kemauan menjadi salah satu modal yang bisa dilakukan untuk merubah banyak hal, tapi bukan hanya sebatas niat melainkan diiringi dengan tindakan. Sebelum terlambat dan semakin berlarut, mari membuka mata dan merubahnya. Sederhana saja, weekend adalah salah satu saat yang tepat untuk mengkoreksi tindakan seminggu ke belakang kemudian membangun ulang persepsi untuk seminggu ke depan. Menariknya, kita bisa melihat begitu banyak peluang dan kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tidak terlihat hanya karena kita menutupinya dengan berbagai prasangka. Sebenarnya kita tahu, kita hanya mausia yang sama-sama berusaha melakukan yang terbaik dan menginginkan yang terbaik tapi sering menampakkan sikap yang tidak sebanding dengan apa yang diingini bahkan mengalahkan pikiran yang awalnya menjadi niat kita.

Justru disitulah letak pesonanya, setiap yang dikehendaki akan menemukan penghalangnya masing-masing, tidak ada yang mulus. Letak perbedaannya adalah kemauan untuk belajar dan menengok dalam diri untuk membuktikan seberapa besar kemampuan kita mengendalikan diri dan pikiran. Berapa lama waktu yang dibutuhkan tergantung seberapa mampu kita keluar dari persepsi yang salah.

Jika berhasil melewati satu rintangan, lalu satu lagi, kemudian satu lagi, sesungguhnya itu pertanda bahwa tujuanmu akan berhasil. Tuhan tidak akan membuang waktumu dengan memberimu hasil yang mengulur kegagalan. -Hanum S. Rais & Rangga Almahendra

Advertisements

5 thoughts on “Weekend: Membangun Ulang Persepsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s