Ayah

Kira-kira malam ini aku sedang tidak tahu ingin menulis apa karena otak dipenuhi perasaan yang campur aduk. Yang aku tahu, aku membuka laptop dengan sadar kemudian memainkan jemariku menyatakan apa saja yang ada di alam ide hari ini. Aku dapat mulai bertanya ke dalam ‘aku’ tentang hal-hal terdekat di kelilingku. Sebuah pertanyaan yang menurutku cukup untuk memulai tulisan. Satu hal yang menggenapkan: Ayah.

*****

Ingatanku tentang Ayah tidak terlalu istimewa. Biasa saja. Tapi lambat laun menjadi sedap di kenang. Awal usia belasan tahun ingatan tentangnya seperti cahaya samar yang ditutupi kabut-kabut, hanya beberapa yang kuingat, yaitu pada suatu pagi hari saat seduhan kopi hitam tersaji di atas meja sebuah ruang tengah dengan satu tumpuk koran edisi terbaru pagi itu. Aku waktu itu adalah anak kecil berumur sembilan tahun yang berlarian dari kamar ke meja makan bergegas menghabiskan sarapan pagi sambil diam-diam menikmati kopi milik Ayah yang lama-lama tinggal setengah cangkir gelas kemudian tanpa perasaan bersalah bersiap berangkat ke sekolah. Hal itu yang kuingat. Pagi-pagi sekali sebelum itu dengan pakaian seragam yang sudah lengkap, aku yang rajin mengabsen loper koran di halaman depan membunyikan kliningan sepeda dan membawa berbagai macam jenis koran dan majalah, meski sudah tahu koran apa yang akan di beli aku masih saja sibuk bertanya ini itu. Yang paling sering kutanyakan tentu saja harga koran dan majalah yang lain , si loper koran anehnya selalu menjawab dan ditutup dengan senyuman. Kemudian ia akan meluncur dengan deras membunyikan kliningan sepedanya melanjutkan mengirimkan koran ke rumah-rumah lain. Agenda kedua pagi ku selain membaca koran lebih awal dari Ayah adalah menunggu penjual susu segar sambil menggerutu karena tak kunjung datang.

“Mana sih kok gak lewat-lewat? Udah mau masuk sekolah nih…” Ucapku kesal padahal masih pukul 6 pagi, jam masuk sekolah masih satu jam lagi.

Cerita itu adalah ingatan tentang seorang yang membuatku senang.

Seiring usia aku mulai dewasa aku semakin dekat dengan Ayah, dan ia tetaplah yang dulu selalu menyeduh cangkir kopi setiap pagi dan sore. Kami habiskan banyak waktu bersama duduk di beranda membicarakan banyak hal, pada beberapa kesempatan ia adalah laki-laki  yang dengan takzim merapal doa di depan pusara Ibu. Ayah bekerja pagi-pagi sekali dan ketika senja baru akan duduk di ruang tamu mendengarkan ceramah di salah satu stasiun radio. Aku bergegas ke ruang tamu, duduk berjajar di sampingnya mengganggunya dengan banyak cerita tentang hari itu, Ayah milikku saat itu. Ditatapnya aku dengan seksama diabaikannya ceramah di radio itu, kuingat sekali, bahkan sampai saat ini aku ingat gemuruh bahagia di dadaku karena ia yang selalu antusias mendengar cerita.

Seperti semua orang yang sedang menemukan rumahnya untuk pulang, aku menggali banyak hal untuk kuingat sebagai pelengkap cerita yang ingin aku simpan nuansanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s