Sehari di Kamar

Aku lupa pada detik keberapa bisa terlelap, yang aku rasakan hanya nafas penuh rapalan doa. Tak tampak memang tapi ketenangan menjalari seluruh tubuh. Sebelumnya aku bergegas masuk kamar. Kepala makin kliyengan, pandangan mata pun berkunang-kunang, perut mulai mual, kemudian gubraak…!!! tubuh sudah tidak sadarkan diri di atas kasur. Terbangun dengan penuh tanya yang seakan menghantuiku dan terus saja menindasku, bagaimana pekerjaanku nanti? Ketika semuanya hanya bisa dilakukan di atas kasur kesibukan yang rutin akan semakin dingin karena ditelantarkan. Aku masih saja menatap jam dinding itu. Sebentar lagi, waktu akan berganti pukul 11 siang. Waktu yang seharusnya digunakan untuk memenuhi janji bertemu seorang teman membicarakan beberapa unit usaha miliknya.

“Kamu mau makan apa?” tanya kakakku dengan nada cemas yang hanya aku jawab dengan gelengan kepala.

Suatu kali pernah kejadian seperti ini. Banyak yang harus dikorbankan, kerepotan dimana-mana membuat aku tidak leluasa melakukan kegiatan yang sudah diagendakan, sudah menyita perhatian, dan pikiran. Terdengar suara detik yang lebih parau, rangkaian kegiatan satu hari yang aku susun rapi di handphone akhirnya terbengkalai.

“Aku mau minum…” pintaku

“Mau makan bubur ‘nggak?”

“Istirahat aja ya, nggak usah kemana-mana. Aku temenin.” Tambahnya sambil memberikan gelas minum untukku.

Tidak, biarkan begini saja, keluhku sambil menelan sesal di hati. Apakah aku akan menuruti keinginanku untuk tetap melakukan kegiatan hari ini, menelantarkan sakitku, kemudian berpura-pura ceria? Atau aku mesti istirahat seharian di atas kasur ditemani buku bacaan yang menumpuk di meja atau beberapa video yang aku download seminggu kemarin. Barangkali, ya, tetapi buat apa?. Kepalaku sudah dipenuhi bayangan seharian yang membosankan tanpa kegiatan hanya terbaring di kasur, segalanya terasa begitu menyesakkan.

“Aku kan cuma sakit biasa” Sanggahku agar bisa tetap keluar hari ini

“Sakit biasa kok pake pingsan, nanti kalau di jalan kenapa-kenapa gimana? Emang siapa yang mau anterin pulang? Ngeyel!!!”

“Yaudah iya iya aku istirahat!” ucapku ketus.

Sepanjang hari itu aku memang merasa ditemani, aku menyerah juga padanya dan tubuhku. Saat-saat itulah sebenarnya aku punya kesempatan untuk mengistirahatkan tubuh, sementara obat dan makanan menjadi hidangan hari itu. Aku berusaha untuk tidak memikirkan apapun lagi selain diriku sendiri. Aku tahu, ada yang lebih dibutuhkan oleh tubuhku agar bisa melakukan banyak kegiatan lagi keesokan harinya. Kali itu, tubuhku sudah mengakui kalau ia sakit tapi aku membiarkan pikiranku beralasan.

Ah sudahlah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s