Pecahnya Sekelumit Doa

Jangan pernah terlalu sibuk untuk orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Kira-kira begitulah judul bab sebuah buku yang disodorkan kakakku ketika aku sedang asyik membaca novel. “Mmmm ya ya…” Sahutku tanpa menghentikan keasyikan membaca sambil tersenyum tipis. Benakku lalu terkenang berbagai kejadian yang pernah terjadi dan perasaan yang kemudian terlempar jauh karena betapa terasa waktu telah banyak menghilang dari diriku. Kemudian aku menghitung segala keluh, kesempatan yang gugur dari Senin ke Senin menyuguhkan kenyataan yang tidak bisa terhindarkan. Rangkaian kegiatan satu per satu tersusun kemudian berguguran dan hilang tergantikan oleh yang lain. Seperti itu terus setiap harinya sampai semuanya berputar semakin cepat karena sudah terbiasa.

Entah siapa namanya tapi aku sedang memikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang ada di dekatku, sekitarku. Ketika aku terus berpacu mencapai apa yang diinginkan, kadang pernah jatuh dan tersungkur tapi tak jarang melewatkan banyak hal di sekitar. Pada detik ke berapa aku tidak paham yang jelas seringkali aku dengan mudah membuat alasan untuk menghindar dari banyak orang, berjalan sendiri menikmati waktu dan kehidupanku. Dunia memang kejam, seringnya memaksa berkejaran dengan waktu dan berjalan tanpa henti, melupakan orang-orang di sekitar. Kehidupan pun sebenarnya telah mengajarkan bahwa apa-apa yang kita kejar termasuk kesuksesan apa pun tidak ada artinya jika tidak membentuk diri sendiri, kehilangan kesempatan bersama orang-orang yang dicintai dan mencintai kita.

Di luar sana, pohon-pohon memayungi jalan di bawahnya, aku meletakkan buku bersamaan dengan cangkir teh kedua yang aku minum. Aku tulis sebuah pesan pada aplikasi messanger kepada kakakku. Tepat pukul 21.07.

“Semangat yaa buat kerjain tesisnya… jangan capek-capek… Bismillah pasti kelar, ikhtiar tidak akan mengkhianati hasil sekalipun banyak yang bertindak tak adil, Allah punya catatan sendiri untuk mereka yang menuntut ilmu dijalanNya, sesuai aturanNya, karenaNya. Tidak perlu iri dengan coretan nilai dari tangan-tangan manusia, setiap nilai punya berkahnya sendiri dan jadilah saja dirimu yang melakukan sesuatu dengan segenap kemampuan terbaik yang dimiliki… Setidaknya dengan itu sudah kamu cukupkan dirimu menjadi teladan bagi banyak orang di sekitarmu dengan proses-proses yang memang harus kamu selesaikan sampai final. Kita, manusia memang hanya sanggup menyelesaikan hari ini, urusan-urusan lain biarlah menjadi hak Allah yang suatu saat akan kita temukan pemahamannya yang bermuara di saat matahari hampir tenggelam. Apapun yang terjadi, tetaplah bersujud agar bisa tunduk di saat yang lain angkuh, agar bisa teduh di saat yang lain runtuh, agar tetap kamu tegar saat hati ini terlempar. Jangan pernah lelah, istirahat kita bukan di sini tapi nanti saat kita kembali.”

Lama sekali tidak ada jawaban, mungkin karena sudah malam dan ia sedang tertidur di kamarnya.

Tengah malam aku masuk ke kamarnya, melihatnya terlelap di samping serakan buku dan kertas-kertas. Agaknya selama tiga bulan terakhir sejak sidang proposal tesisnya, ia sibuk berduaan dengan laptop di kamar atau nongkrong di perpustakaan. Senyumku mengembang melihatnya terlelap, tak sampai hati membiarkan ia sibuk sendirian.

“mmm… Loh kamu udah lama duduk disitu?”

Wajahnya menengok ke arahku yang duduk di tepian ranjang, sepasang matanya yang merah menahan kantuk mencari mataku. Ada penasaran di sana, membuatku tersenyum.

“Masih ngantuk ya? Yaudah tidur lagi aja…” kataku “boleh gak kalau aku di sini? Aku pinjem bukunya ya?”

“Mau baca buku apa sih? Kamu gak tidur, kan udah malam ini?” tanyanya penasaran saat aku malah terdiam. “Tubuhmu dan badanmu juga punya hak. Semua bisa menuntut haknya, tapi kamu memang harus tahu apa yang harus diprioritaskan, ditunda, atau bahkan ditolak.” Lanjutnya dan aku masih terdiam.

Aku tidak melihatnya membuka-buka handphone tapi ia terdengar membaca pesan yang kukirim tadi malam. Sekelumit doa dan terimakasih kemudian pecah di kelopak matanya. Matanya basah oleh tetesan air. Ada suatu rasa yang membahagiakan tapi bercampur juga dengan haru dan lelah terpancar dari matanya. Ya, mungkin ia masih melihat kebanggaan lain sementara sikap cuek yang selama ini aku tunjukkan seperti tidak mungkin membuatku mengirim pesan seperti itu, di saat-saat ia berjuang menyelesaikan kuliahnya.

Hening kembali. Kulihat ia yang berusaha mengusap air matanya, dan untuk beberapa menit aku kembali tenggelam dalam kehangatan yang ingin kupelihara nuansanya. “Udah gak usah  nangis, aku bakal nemenin sampe kelar. Jangan capek-capek!”, Ia mengangguk dan tersenyum. Entah apa yang aku pahami hari itu, aku hanya ingin melakukan hal sederhana yang jarang kusadari, sesederhana memilih antara apa yang diinginkan dan apa yang baik bagi orang lain. Persis seperti yang sudah kupikirkan, aku akan selalu berjalan beriringan dengan orang-orang yang punya doa untuk dipecahkan dalam berbagai keadaan meski tidak selalu berbentuk ucapan. Aku punya segenap daya pendengaran, penglihatan, dan berbagai isyarat yang harusnya sudah kuhapal bagaimana bentuk rapalan doa yang akan dicetuskan di luar sana. Apapun bentuknya. Aku sering tidak menyadarinya karena terlalu sibuk berhubungan dengan masa depan. Barangkali ini saatnya untuk ada dan hadir sepenuhnya di hati dan waktu yang mereka miliki, merapal doa untuk orang-orang yang dicintai dan mencintai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s