Menata Hati

Sebab perbincangan kita terlampau panjang untuk diurai dengan banyak pertanyaan yang tidak kita pahami jawabannya, belakangan kita sibuk menerka berbagai prasangka atas sikap orang-orang yang entah kenapa bergantian datang dan pergi membawa tawa, air mata, kecewa, doa, bahkan sikap yang tak disangka-sangka. Sebagai manusia yang punya perasaan, betapa naifnya jika harus menolak kecewa meski bisa mengerjap senyum di hadapan mereka. Betapa kita berdaya berbagi tawa di hadapan mereka tapi lupa hati macam apa yang nantinya akan kita persembahkan di hadapan Allah saat kita akan beradu canda denganNya memperbincangkan kebaikan kita di dunia ini. Kita hanya manusia yang dititipi segala piranti olehNya, apa-apa yang kita cemaskan, pikirkan, dan kerjakan semua akan berpulang. Maka untuk semua yang belakangan sibuk kita perbincangkan, biar aku akui satu hal bahwa “biarkan aku, ijinkan aku menata hatiku sendiri setelah apa yang banyak sekali kita alami dari pertemuan dengan berbagai macam orang. Seperti yang pernah aku katakan, rasa aman dan nyaman tidak akan pernah membohongi perasaan. Akupun demikian, sebelum aku kembali menerima kenyataan ada banyak hal yang mengecewakan bahkan datang dari orang-orang yang sebenarnya dekat dengan kita, biarkan aku menata hati. Meluruhkan segala ego dan prasangka, meletakkannya pada tempat yang kita sebut samudra keikhlasan. Biarkan aku menata hati sampai bisa kuhadirkan senyum terbaikku atas nama kebaikan yang Allah perintahkan.” Baiklah, akan kusederhanakan pembahasan kita…

Kira-kira demikian…

Kita dipertemukan kepada banyak orang yang punya kelebihan dan kekurangan. Perlahan tapi pasti kita mengenal setiap rasa dan logika yang melekat pada tubuh mereka. Terjadilah kedekatan fisik, kedekatan emosi, bahkan mungkin spiritual. Setelah banyak kejadian dan kesempatan dengan berbagai pendekatan itu terjadi dan terlewati bersama mereka, tentu saja ada satu dua hal yang sempat ikut menangis bahkan menertawai air mata kita. Ketika itu terjadi, kita mengenal semiotika kehidupan. Hati kita sempat goyah oleh banyak ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, tanpa sadar atas banyak kekecewaan kita sering mengutuk perbedaan. Sekilas tidak ada yang salah memang, kita punya hak untuk berdiri di atas pemikiran kita sendiri dan berjalan di atas kaki kita sendiri. Tegasnya: Kita tidak hidup di antara kumpulan kisah orang lain. Kita punya kisah sendiri. Begitulah…

Biar aku buka lagi catatan berdebu di pojok hatiku tentang “setiap penilaian akan menemukan jalannya sendiri, menemukan rumahnya yang baru yaitu kebenaran.” Pertanyaannya: Dimana muara kebenaran itu? Baik akan saya tuliskan satu per satu dari catatan azaleav yang kemudian saya tulis ulang, semoga kita mau mengerti dan memahami…

Kalaulah muara cinta, kebenaran, dan perasaan bukan Sang Maha Mencintai, hal gila macam apa yang akan dialami para pencinta, pemuja perasaan yang menjudikan kebenaran? Menegak racun seperti Romeo dan Juliet?

Kalaulah muara cinta dan perasaan adalah manusia, seperti apa bentuk hati yang koyak oleh prasangka? Bahkan jawaban-jawaban atas segala sangka pun tak cukup  menyulam luka. Kita mau menata hati itu kembali, tapi manusia bahkan tak punya daya untuk merapikan hatinya sendiri kan? Selalu ada tangan Allah yang menata kepingan hati kita yang sudah terkoyak. Hingga sebentuk kejujuran tak mampu lagi mengembalikan hati yang lukanya sembuh sekalipun. Kita tak punya daya apa-apa. Tangan Dia sudah bekerja, sedang tugas kita hanya menerima.

Kalaulah muara cinta dan perasaan bukan Sang Penata Hati itu, penyesalan yang bagaimana yang akan didera oleh jiwa-jiwa melankolis? Yang berjuang atas nama kesetiaan, perbedaan, dan pertemanan tapi roboh juga oleh urusan takdir dan perasaan. Yang selalu mencintai, setia, dan tersenyum bahkan ketika luka menjadi sahabat. Yang rela melepaskan ego karena kedalaman cinta, perasaan, dan pertemanan itu sendiri.

Baiklah mari kita pahami kebaikan dan cinta adalah energi. Mari kita sepakati untuk mempercayainya. Kebaikan adalah energi untuk menghadirkan cinta. Kita tahu kan dalam fisika, energi berbentuk kekal? Sepakat? Ia tidak akan pernah hilang, energi hanya akan berubah bentuk. Maka jika kebaikan dan cinta sepenuhnya adalah energi, mereka hanya berubah menjadi samudra ikhlas setelah kata melepaskan menjadi keniscayaan atasnya. Perlahan tapi pasti, melakukan kebaikan atas nama cinta adalah mengenalNya. Mengenal setiap apa yang Allah titipkan dalam hidup kita: manusia, perasaan, prasangka, dan hati yang harus selalu kita rapikan di balik takdirNya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s