Yang Kusimpan Untuk Nanti

Tampaknya ini akan lebih menarik untuk diendapkan dalam jeruji ingatan dibiarkan begitu saja sampai mendidih hingga berceceran dimana-mana. Aku memang akan berbicara lagi padamu jika tumpukan cerita di kepalaku sudah mendidih menunggu matang yang siap disajikan sebagai hidangan hangat yang membuka pagi sebagai sapaan. Dalam banyak kesempatan, jeda adalah pilihan yang selalu meneriakkan letupan ketegangan, kekacauan, dan kerusuhan. Selebihnya minum teh, kopi, atau membaca buku adalah pilihan lain menikmati momen refleksi , ketika sedang bergairah, suka, maupun sedang kehilangan inspirasi. Belakangan, sesuatu mewah yang dihadiahkan waktu adalah menikmati senja sambil berbicara sendiri tentang apa yang dipikirkan.

Tentang keinginan-keinginan kecil untuk meng-utuh-kan hari itu rasanya harus terpatahkan begitu saja dengan alasan yang sebenarnya kuragukan sendiri. Ada banyak hal tak nyata yang selalu dipersiapkan untuk membuat hari menjadi sempurna dengan segenap pengisi cerita di dalamnya. Rasanya memang indah jika bisa mementaskan apa saja untuk memelihara kebahagiaan. Sampai akhirnya aku lupa memelihara kedalaman cerita yang setiap hari dituturkan.

Mungkin benar aku hanya akan melihat, membaca, mereka, dan mengira tanpa perlu dituliskan. Barangkali ini saatnya mengalihkan fungsi konsentrasi telinga menangkap suara tanpa (pura-pura) mendengar apa-apa. Setiap yang kukagumi dari tuturan kisahku perlahan akan membuatku berhenti sebelum terlambat untuk mengukur kedalaman sikap dan isi hati. Ada yang lebih layak dituturkan, yang kusimpan untuk nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s