Aku Menemui Maafku

IMG_20150715_090821
foto adalah kiriman dari seorang saudara

Seperti hari biasanya, aku tak bisa mengakhiri malam secepat menghabiskan sepiring ketupat. Sambil berbaring di kasur dan memastikan dimana penaku tergeletak semalam, apakah masih dipangkuan lelah atau sudah bermanja di pelukan sepi. Setidaknya aku tak lagi meragukan untuk membebaskan diri melahirkan tulisan malam ini.

Manusia pasti paham, memaafkan sesama adalah tugas dan bagian dari hidup di muka bumi. Barangkali itulah yang dilakukan hampir semua muslim hari ini: merayakan Idul Fitri dengan maaf sebagai syarat kembali ke fitri. Sementara waktu lalu pernah memberikan bising, kecewa, luka, dan ketidaksadaran maka tangan yang bergenggaman menjabat satu sama lain adalah simbol pertukaran kesalahan menjadi hangatnya maaf. Masa-masa ini, aku memang harus cukup tangguh melakukannya dan mengabaikan dosa ketidakpedulianku di waktu yang lalu. Aku harus meletakkan hatiku di dalam “maaf” agar layak untuk disandingkan lebih tinggi daripada kesalahan-kesalahan terdahulu. Ah, tapi hanya Allah yang paling tahu segalanya tentang hatiku.

Aku berharap kebaikan bisa kupetik di hadapan maafku saat semuanya menyambut hari ini dan berkata “Selamat idul fitri… Mohon dibukakan pintu maaf lahir dan batin”. Ya, aku belajar memaafkan. Seolah kata itu menjemputku untuk berhenti berpura-pura. Hari ini, aku harus selesai dengan kebohongan, kesombongan, keangkuhan, kemunafikan, dan apapun itu untuk dipertontonkan. Hari ini, aku mengawali satu lagi lembar kosong yang akan diisi esok dan seterusnya maka aku harus lebih matang dalam bersikap, bertutur, dan bertindak.

Setidaknya hari ini aku tahu bahwa memaafkan, berkebaikan, dan terimakasih adalah tiga hal yang harus saling berpelukan dalam hati kita, kapanpun. Ketiganya harus dilakukan di dalam hati, didorong dengan nurani. Jangan pernah lagi menunggu. Jangan pernah lagi jadikan idul fitri sebagai alasan untuk memaafkan sementara sebagian orang di luar sana tak butuh alasan apapun untuk saling memaafkan. Mulailah memaafkan dan mulai temukan dirimu yang baru.

Mari perbaiki kualitas maaf kita!

Kediri, 17 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s