Surat Tentang Aku

Tak terbilang senangnya aku

Mendapatimu (masih) berdiri di depanku

Berulangkali kupandang tubuhmu

Kutelanjangi pikiranmu lewat dua, tiga, empat kata dan paling banyak satu kalimat yang kau ucap setiap hari

Tak cukup kumengerti…

Detil materialistik, filosofik, ekspektasi, kultur, idealisme, gengsi, atau apapun tentangmu

Tak secuilpun kumengerti…

Tak juga puas hatiku…

Rupanya kita tak sepaham pandang

Sudahlah…

Harapan dan putus asa tumbuh disepanjang pagar perjumpaan

Kerinduan berdesakan di celah-celah tatapan

Di persembunyian rasa malu, hati mulai ngilu

mata mendayu-dayu tersebab haru oleh belaian waktu yang tersekat perasaan

Sudahlah…

Aku memang pengecut

Untuk temukan jawaban pertanyaan atas diriku tentangmu

Sudahlah…

Kurundukkan saja penaku mengukir kata

Tercatat rapi di bawah garis buku

Terbaca elok karena tertulis rapi penuh kesopanan seakan hendak mengutarakan sapaan penuh kelembutan

Tapi jika bicara aku kuyu dan putus asa

Ketahuilah, aku tak mengharap balasan

Karena yang memahami huruf dan makna kerinduan hanya aku

Ini saja, sepucuk surat dariku

Mewakili segala sesuatu yang amat penting dari ketidakpekaanmu

Kediri, 16 Juli 2015; 01.54

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s