Curhat Untuk Sahabat

Belakangan ini, ramadhan menawarkan aku satu kebiasaan baru, minum secangkir teh hangat saat sahur dan berbuka puasa. Hal itu bermula saat aku sering main ke rumah salah seorang saudara yang tiap kali aku bertamu pasti dibuatkan secangkir teh hangat. Aku yang awalnya tidak suka teh akhirnya jadi kecanduan sampai sekarang. Itulah yang juga akhirnya mengguncang-guncang hari-hariku setelahnya untuk terbiasa menikmati seduhan teh dan bukan lagi kopi. Saudaraku itu pernah bilang, meminum teh hangat diyakini bisa memberikan perasaan nyaman di tubuh dan pikiran, sebut saja rileks.

Malam ini begitu memikat dengan secangkir teh hangat dan angin yang hembusannya memantulkan suara mengaji dari masjid. Keduanya telah menarik pikiranku untuk masuk ke dalam cerita yang terburai dan tumpah ruah mengisi ruang kepala. Aroma ramadhan ternyata mengajarkan kita kedekatan bukan hanya kepada Tuhan tapi juga lingkungan dan pertemanan. Pertemuan-pertemuan yang di kemas dalam acara buka bersama atau reuni sederhana dengan agenda bincang-bincang selepas tarawih menjadi satu warna penghias ramadhan. Tentang pertemuan-pertemuan macam itu bukan lagi soal menghabiskan waktu, tapi kehadiran untuk memelihara suatu level hubungan pertemanan.

Aku bertemu teman-teman di beberapa kesempatan buka bersama, menyaksikan peta perubahan seorang kawan yang sudah sekian lama tidak bertemu. Pertemanan dan kedekatan selalu memberi kejutan yang menyenangkan seperti gairah menemukan cerita masa lalu kita dalam perjalanan hidup mereka saat dipisahkan oleh kesibukan masing-masing. Ada yang menikmati kehidupan barunya dengan suaminya di usia yang masih sangat muda, ada beberapa yang baru datang langsung ambil bagian berbincang sembari menyumbangkan senyum yang berbunga-bunga dari wajah yang jenaka, ada yang terlihat semakin dewasa dan lebih pendiam jika diperhatikan dari penampilannya tapi rupanya sebagian besar orang tak seperti bagaimana mereka tampaknya. Setiap kali bertemu orang, aku menjadi tertarik untuk mengamatinya. Aku selalu menemukan hal baru untuk dipelajari dan menemukan fakta-fakta tentang perubahan yang ada pada dirinya, bagaimana ekspektasinya, mengapa ia seperti ia sekarang, apa saja pengalaman yang sudah ia lewati dan ternyata setiap orang memunculkan sesuatu yang beragam dari ruang seukuran batok kelapa. Pertemuan yang singkat itu memberikanku gambaran nyata sebuah perjalanan waktu, seakan dapat kusentuh hangatnya cerita dan waktu yang mempertemukan kami kembali diantara cangkir teh hangat ini. Pertemanan selalu menjadi bingkai cerita tersendiri di kepalaku.

Waktu kami mulai habis, malam telah digenggam oleh dingin. Aku melekatkan telapak tangan di tangannya lalu menyandarkan diri pada punggung kursi. Lalu aku terkenang, dulu aku pernah menatap mereka begitu lekat, aku tidak pernah lupa dulu kami pernah lama bersama menghabiskan cerita sampai mulut berbusa, kuulangi kenangan lama itu, setiap detilnya mengandung seribu cerita tentang pertemanan sederhana dan keluguan yang menjadi hal terbaik yang pernah kami lakukan waktu itu. Kubaca lagi keindahan masa lalu untuk menghibur rinduku sehingga sebaris senyum terkunci di bibirku. ‘Tidakkah kau merasa dirimu melewatkan banyak cerita?’ ucapku pada diriku sendiri.

Dan seperti biasa, tegukan terakhir teh hangat menguatkan hatiku untuk mengakhiri cerita sambil mensenandungkan bait lagu Curhat Untuk Sahabat

Dan kini sampailah, aku di sini…

Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku

Menanti seorang yang biasa saja

Segelas air di tangannya, kala kuterbaring…

Kediri, 15 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s