Merapikan Kenangan

Aku tengah berbaring di ranjang menghadap jendela ketika adzan ashar berkumandang sampai ke gendang telinga. Suasana tentram dan damai ini sungguh hanya sepersekian detik menyenangkan. Selebihnya aku harus segera bangun dengan risiko badan masih lelah dan ngantuk. Di balik selimut tebal yang berjam-jam tadi menghangatkan tubuhku, aku teringat akan sesuatu. Hanya beberapa detik dan berkelebat, aku menatap keluar jendela namun pohon berbalik menatapku. Kami saling tatap untuk mengucapkan satu hal yang sama, tapi tak mampu terucapkan. Ah, aku terlalu gengsi untuk mengakuinya bahwa akhir-akhir ini aku membenci perjalanan dan setumpuk kenangan tentangnya.

Setelah itu, aku bangun, menyingkir ke dapur karena jiwa mulai tertekan dengan kenangan yang bermunculan dan bergegas menyiapkan makanan untuk nanti berbuka puasa, sisa sore kembali berlangsung tentram, baik-baik saja, dan sedikit membosankan. Setahuku, setiap yang terjadi kemudian berlalu akan menyimpan warna tersendiri dalam kehidupan seperti perjalanan yang akhirnya enggan kulakukan sebab terlalu nyaman dengan keadaan. Yang terbayang adalah lalu lalang orang, suara bising kendaraan, dan basa basi yang melelahkan. Namun lebih baik kuputuskan untuk mengalihkan perhatian memikirkan kebaikan yang akan menyimpan daya pikat terletak pada kenangan.

Bagiku, kenangan lebih mirip seperti tumpukan kertas yang harus dirapikan kemudian ditata sedemikian rupa sampai suatu saat jika ingin mengulang ceritanya, aku bisa membacanya dari susunan yang sudah kurapikan. Merapikan kenangan tak sekedar perihal kerinduan, tapi orang-orang yang dengan kebaikan dan keburukannya telah membentuk kita menjadi seperti sekarang ini. Ramadhan dan berbagai kenangan di dalamnya, memberikan aku kesempatan untuk melakukan perjalanan menemukan penawar kerinduan, menemukan terima kasih, menemukan penerimaan, dan menemukan kemenangan demi kemenangan atas pertempuran yang dilakukan.

Dan kali ini, senja ditutup dengan hidangan penjelasan panjang lebar yang sudah puluhan kali terdengar di telingaku tentang menjaga kesehatan, bermacam-macam cerita tentang kehidupan, dan tentang mengatur waktu melakukan setiap perjalanan agar tidak berakhir menyedihkan. Aku masih saja disibukkan dengan pikiranku dengan setumpuk kenangan yang bisa saja aku jadikan alasan sebagai pembenaran bahwa aku telah melewati sekian banyak waktu untuk mendengar penjelasan yang sama, tapi kemudian aku merasa sangat sayang pada kejujuran dan kelembutannya jika ia sedang menjelaskan banyak hal. Semua itu adalah hidangan pembuka hariannya yang lambat laun berubah menjadi seni berkawan.

Di sebuah waktu yang sepi aku minta berhenti. Aku berjalan memasuki gerbang pada sebuah rumah yang tampak olehku berdinding kayu, ditumbuhi rerumputan di tepian pagarnya, dan aku melihat satu hal terbaik disana karena membuatku melakukan yang terbaik agar pantas untuk dirapikan menjadi kenangan…

Malang, 10 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s