Cangkir Kosong

Aku meresapi kasih sayangnya dari secangkir gelas kosong yang setiap pagi, siang dan malam ia siapkan di atas meja, di samping galon air yang tak pernah kosong isinya. Tepatnya di seberang kamar yang pintunya sengaja tak pernah tertutup di antara remang dua ruang: lampu kamar yang selalu menyala, dan lampu ruang tengah yang selalu padam saat malam.

Malam ini kubiarkan waktu berlalu sebagaimana adanya, kuletakkan meja kecil dan seperangkat alat tulis di samping kasur, menghadap rak buku, sedikit menyebrang dari letak pintu jika dibuka. Tapi akan membentuk sudut segitiga jika pandangan mata diarahkan ke tiga sisi: ke luar dengan pemandangan meja, galon, dan secangkir gelas di atasnya; di sisi tembok kamar ada rak berisi buku yang sinarnya selalu menggoda mata untuk membaca; dan di dalam kamar ada tempat tidur yang ditata sedemikian rupa sehingga mampu menghadiahkan banyak warna di setiap suasana yang menjadi sudut pusat segitiga dimana aku selalu duduk disini memikirkan banyak hal. Komposisi yang indah, pikirku ketika menyadari hal itu malam ini.

Pikiranku menyelipkan sesuatu yang dulu-dulu ketika memandangi gelas kosong di atas meja itu. Lalu potongan hari-hari yang lalu bermunculan di permukaan ingatan mempertontonkan perulangan perintah yang itu-itu saja “Minum air putih sana!” saat aku sedang asyik menikmati duniaku sendiri. Ia dan semestanya seolah tidak pernah bosan mengingatkan ribuan makna dari perintah dalam satu kalimat, yang aah akhirnya lama-lama menghancurkan batas tembok tinggi yang kubangun dengan jawaban: “Aku bisa minum sendiri, tapi nanti…!”, begitu saja. Jawaban yang kemudian membawaku ke satu titik kelelahan lalu kehabisan akal dan merasa bisa menyangkal. Terlepas dari fakta bahwa aku punya banyak sekali alasan dan jawaban lain untuk kuucapkan saat itu, aku menyerah. Ia yang ternyata lebih mampu memecahkan teka-teki di kepalaku yang terlanjur rumit, ia terjemahkan berulang kali dalam bentuk isyarat, sehingga menjadi sebuah perasaan tenang untuk mengerjakan hal yang sering diperintahkan seperti memenuhi hak untuk diri sendiri. “Banyak hal yang terjadi dan waktu berlalu, sedikit saja meluangkan waktu untuk mengangkat gelas kosong dan mengisinya dengan air putih, apa susahnya?” ucapnya berulang kali sambil berlalu dengan tatapan jengkel namun terlihat mengkhawatirkanku. Ha ha ha.

Setiap berlalu, kubiarkan diriku tertawa. Hitung saja mengumpulkan niat memenuhi banyak janji merapikan diri sendiri, menyicil energi sampai jinaknya pikiran lalu memastikan selesainya perlawanan mengalahkan diriku dengan pertanyaan “mau juga melakukan?”, suara tegukan air di mulutku akhirnya sering juga terdengar, bahkan di saat aku dan ia tidak bersama.

Maka untuk semua yang sejak awal selalu sederhana tanpa perlu berbuat banyak, kupastikan: Ia hebat, tidak sepertiku dan jangan pernah sepertiku, yang hanya bisa menyampaikan semuanya dengan tatapan dan sebuah rasa. Karena aku takut, jika hal itu ia lakukan, aku tidak akan mengerti cara itu. Karena ternyata perintah adalah pesan terlihat yang perulangannya tak perlu membuat kita berlari. Ya, bersamanya dan cangkir kosong yang setiap hari ia isyaratkan itu.

Bukankah pada ketidaksempurnaanku mengolah rasa, ada mata yang darinya, aku seperti meneguk telaga?

Di depan cangkir air yang kesekiankalinya kuminum dalam hari ini menemani aku menulis

Malang, 4 Juli 2015; 00.13

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s