Kepada Aku, Tentang Kata Rumah Tangga

Aku coba membuka laptop, mendaratkan tumpukan aksara untuk dituturkan menjadi selembar surat. Saat ini, kubiarkan renung, senda, tawa, gurau, dan sendu mampir di gudang pikir untuk meluruskan hipotesa dan kemungkinan menjadi sebuah kepastian. Lelah juga rupanya melihat banyak orang bertanya perihal kepingan kisah dari fragmen hidupku yg tak pernah usai kuramu menjadi kekata cerita. Berulangkali aku mengutuki diri sendiri yg mudah membuat alasan dan terlalu angkuh membicarakan masa depan sebab terlalu takut membaca pesan panjang lebar yg ingin Tuhan sampaikan lewat rangkaian kejadian. Mungkin butuh waktu untuk meminta maaf pada diri sendiri dan menyembuhkan sakit hati, meski tak pernah benar2 mengerti apa yg membuat sakit hati.

Rasanya alasan itu cukup klise untuk kuumbar demi menghalalkan alasan takut membicarakan rumah tangga masa depan. Mungkin aku dan orang2 pernah bertanya sebab prasangka yg muncul bahwa aku tak memikirkan masa depan karena lebih sering sesuka hati bermain kata dan bahasa menguntai cerita. Meski kadang aku egois membiarkan orang tak tahu maknanya. Seperti tentang rumah tangga di masa depan yg setiap orang impikan, aku sibuk sendiri dg duniaku mempersiapkan diri demi mengisi ‘tubuh dan otakku’ agar tak kosong saat mendampinginya kelak. Kubiarkan diriku bermain dengan kata karena itulah aku dan proses belajarku mengenal diriku. Aku adalah manusia yg terus mencari makna dua buah kata: Rumah Tangga, sampai detik ini, untuk bekal kehidupan kelak. Aku belajar memaknainya dengan berkelana membaca peristiwa dan berjalan menapaki tangga hidup dengan berbagai aktivitas. Aku adalah kumpulan kata yang sedang melakukan riset dari apa saja yg kualami sebab sebagai pebelajar kehidupan aku harus memberikan nafkah materi dan batin bagi otak sebagai gudang tafsir dan hati sebagai penunjuk kebaikan yg ada pada diri. Maka biarkan aku terus berjalan memperkuat pencarian makna Rumah Tangga dg melakukan perjalanan meliarkan pikiran pada sebentuk narasi cerita, prosa, dan puisi hingga aku tidak akan lemah untuk mengatur semua persiapan melanjutkan perjalanan masa depan bernama Rumah Tangga.

Sampai saat surat ini aku tulis, aku harap diriku tak lagi punya alasan untuk antipati membicarakan kata sakral itu. Barangkali, aku akan memasukkan diri dalam hal-hal sederhana untuk menggerakkan hati dan membuka mata menemukan makna yg sempurna. Kadang kita memang hanya perlu memastikan hal-hal istimewa dg cara sederhana, bukan? Termasuk memaknai kedalaman perasaan memaknai Rumah Tangga: di rumah dalam cinta, di tangga menuju surga.

Salam hangat,

1 Juli 2015

Advertisements

3 thoughts on “Kepada Aku, Tentang Kata Rumah Tangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s