Perjalanan Pulang

Belasan orang berkerumun, duduk menunggu giliran panggilan dari nomor antrian di loket pembelian tiket. Beberapa suara berseru dari kejauhan “Ayo cepetan!! Nanti ketinggalan kereta!” teriaknya sambil melewati pintu peron dan mengawasi temannya yg masih di kebingungan membawa barang-barangnya. Aku menoleh ke arah saudaraku yang sedang menulis identitas di selembar formulir pemesanan tiket kereta, memastikan ia masih ada di sampingku. “Oh masih ada…” pikirku dalam hati. Maka, aku teruskan saja melanjutkan membaca-baca artikel di handphone sambil berdiri dan mengamati keadaan sekitar, lalu lalang orang, wajah-wajah kepanikan beberapa penumpang yang sedang menunggu kereta, dan kali saja ada kursi yang kosong untuk diduduki.

Akhir-akhir ini, banyak orang sibuk mengantri tiket kereta, merencanakan bepergian, dan menyiapkan kebutuhan mudik lebaran bulan depan. Banyak orang sibuk mengantri tiket kereta api sebagai salah satu transportasi masal yang beberapa tahun terakhir tengah banyak berbenah di bawah pimpinan dirut PT KAI, Ignasius Jonan yg sekarang sedang menjabat sebagai menteri perhubungan. Meskipun demikian, rasanya kita perlu mengapresiasi kinerja PT KAI yg tengah serius membenahi pelayanannya untuk masyarakat sehingga memberikan kenyamanan. Lihat saja sekarang ini, atap gerbong KA bersih dari penumpang yg nekat mempertaruhkan nyawa demi naik kereta. Di dalam gerbongnya pun, tidak banyak lagi penumpang yg berjubel dan pedagang asongan yg menjajakan jualannya. Transformasi PT KAI yg sedemikian rupa telah mampu merubah citranya dari “pelayanan ala kadarnya” menjadi salah satu transportasi dg pelayanan “mendekati eropa” sebut saja demikian. Hehehe. Barangkali akan jauh lebih baik jika ke depannya PT KAI tidak hanya memenangkan banyak medali dan penghargaan seperti “Silver Winner untuk kategori Strategic dengan Sub-Kategori Brand, Product, and Customer Management Jakarta, 27 Agustus BUMN Marketing Award 2013” sebagai sebuah simbol keberhasilan, tapi juga memenangkan hati para penggunanya. Hal tersebut berimbas pada antusiasme masyarakat dalam menggunakan kereta api karena bisa dinikmati kapanpun, tersedia bagi siapapun dalam waktu 24 jam dengan system penjualan karcis secara online dan mekanisasi sistem gate-nya. Setiap tahunnya, ada sesuatu yg merupakan ‘kewajiban’ bagi orang Indonesia yg tumbuh sebagai sebuah tradisi: mudik. Aku tidak tahu alasannya kenapa hal itu tumbuh subur sebagai sebuah tradisi, barangkali sejarah bangsa ini dimana banyak perantau yg bertebaran jauh dari kampung halamannya untuk bekerja.

Bagi para perantau, tradisi mudik dan pulang ke kampung halaman menjadi istimewa karena memberikan “kemewahan” tersendiri karena sejauh apapun pergi, kampung halaman adalah awal kisah kehidupan setiap orang. Menjadi sebuah kemewahan sebab setiap sudutnya kerap menyajikan kenangan yg bertebaran di dinding waktu, kerinduan yg berlumpur, kesempatan mengakar pada kisah masa lalu, dan kesempatan menyediakan waktu lebih banyak bagi keluarga sejenak melupakan hiruk pikuk pekerjaan.

Karena keasyikan membuat catatan singkat dan membaca, aku sampai lupa kemana perginya saudaraku, menengok kanan dan kiri rupanya tidak ada. “Ah biarlah! Nanti juga ketemu!” kataku sambil duduk di ruang tunggu karena ada satu kursi yang kosong.

Rasanya, kehendak bebas pada waktu tidak tersedia bagi semua orang, termasuk saudaraku ini, buktinya saja ia baru bisa menggenggam waktu mudik seminggu sebelum lebaran karena padatnya pekerjaan. Akhirnya, harus rela sementara jauh dari keluarga dan anaknya karena lebih awal mudik ke Jakarta. Pekerjaannya sebagai dosen tidak lantas membuatnya bebas liburan meski mahasiswanya sedang dalam masa liburan semester. Berkali-kali ia ceritakan bahwa segera ingin pulang sambil sesekali menyeka air matanya sebagai isyarat rindu. Rupanya rindu terlalu jahat saat disandingkan dengan waktu tunggu menanti perjumpaan.

*****

Pada suatu siang, keesokan harinya, kami keluar meninggalkan rumah, aku berpamitan untuk pulang ke Kediri, saudaraku bersiap menuju Surabaya untuk menyelesaikan tugas kuliah S2-nya. Dengan berada cukup jauh darinya kami masih berkomunikasi via BBM, beberapa jam kemudian aku sudah sampai di rumah dan menyempatkan diri merayakan kepulangam dengan menikmati beberapa gorengan dan secangkir teh hangat. Tidak lama selewat tengah malam, BBM berbunyi menyampaikan kabar bahwa anaknya sedang sakit demam tinggi, katanya sih bilang kalo kangen sama bundanya. Waktu menjadi tidak bermakna, diputuskannya untuk bertolak ke jakarta keesokan paginya meskipun mungkin hanya dua sampai tiga hari bisa bertemu kemudian kembali lagi ke Malang. Tidak ada seorangpun bisa tahu bagaimana keadaan esok dan perjalanannya yg serba mendadak, yg jelas ia hanya ingin pulang dan sejenak melihat keluarganya. Namun situasi gawat dan serba mendadak itu justru memberinya saat-saat paling istimewa dalam hidupnya: pulang sebelum saatnya.

*****

Dini tadi, aku terkagum dengan langit ramadhan terlepas dari keadaan dingin dan kelaparan karena belum menyantap makan sahur. Ia mengirimkan sebuah foto yg jika dilihat saja sudah mampu bercerita bahwa ia sudah bertemu dengan anaknya. Walaupun baru beberapa saat berjumpa tidak ada yg mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Tentu saja, ketika akhirnya pulang dan berkumpul dengan keluarga, tak seorangpun tahu bagaimana perasaannya kecuali ia yg mengalaminya sendiri. Orang lain hanya melihat dan menerima bahwa kejadian semacam itu adalah hal yang wajar, tapi spesial bagi yg mengalaminya.

Aku selalu kagum dan terpesona dengan pemandangan macam itu. Entah sudah berapa kali berkesempatan mengalami hal semacam itu, baik karena kebetulan atau kesengajaan yg dibuat spesial, bahkan di tengah situasi yang tidak kondusifpun, keluarga terkadang masih sempat menghibur kita dengan keindahan dan kehangatan di dalamnya, yg dalam pengalamanku sering terjadi di tengah situasi yg kalau bisa tidak usah dialami oleh siapapun.

Yang sungguh benar2 aku tahu adalah bahwa kita tidak mungkin merasakan betapa hangatnya sebuah keluarga kecuali pernah menempuh perjalanan menyelami kehidupan, membiarkan waktu dan kejadian berlompatan sebegitu bebasnya. “Apa dalam harapanku yg kucari? Barangkali aku terlalu muda untuk paham bahwa aku harus mencari sesuatu, atau setidak tidaknya menemukan sesuatu. Waktu itu aku hanya ingin memiliki pengalaman, menikmati kehangatan dari jauh, itu saja” gumamku sambil menghela nafas. Pemandangan mulai berubah dan langit serasa terbuka, aku melayangkan pandanganku yg lepas ke semua arah. Akhirnya, masing-masing dari kita selalu punya cara melihat kedalaman setiap kasih sayang keluarga, termasuk dengan melakukan perjalanan. Sebuah kemewahan luar biasa bagi siapapun yg merasakan, sebuah perjalanan yg ketika dialami menghadirkan semua yg pernah di dengar, yg istimewa, yg mendebarkan, yg melegakan. Dan perjalanan selanjutnya adalah perjalanan pulang ke rumah.

“Ketika semua terasa begitu menyesakkan, aku hanya ingin cepat pulang” bisikku pada angin ramadhan.

Di tempat yg membuatku menyediakan banyak waktu berpikir lebih sering pulang, beranda belakang rumah

Kediri, 19 Juni 2015; 3.45

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s