Kepada Kesempatan, Tentang Yang Hilang Dari Angan

Kesempatan, satu yang tidak pernah hilang dari kehidupan. Hidup hari ini adalah kehidupan yang penuh dengan pilihan, dimana kesempatan memilih hadir dibarengi kegelisahan dan kebingungan. Dulu, aku terbiasa memanfaatkan setiap detik, menit, dan jam untuk merumuskan masa depan, mencatat satu per satu kemungkinan hadirnya kesempatan dalam hidup. Tapi ternyata aku keliru, di antara sekian banyak rencana dan penggalan waktu yang megiringi justru ‘kehilangan’ yang menyibukkanku untuk mencari yang ‘hilang’. Berbagai pertanyaan muncul di kepala: Bagaimana kehidupan besok dan masa depan nanti?

Waktu yang sering dipertaruhkan untuk merangkai masa depan lewat kertas bertuliskan rencana rupanya sempat sekian lama menjauhkanku dari kehidupan yang semestinya. Kehidupan yang apa adanya. Tentang kesempatan yang sering aku tuliskan, membuat aku lupa bagaimana caranya jatuh dan menikmati penggalan waktu dalam hidup. Secepat mungkin aku harus berlari berebutan mengambil setiap kesempatan tapi lupa kehadiran orang-orang di sekitar. Setiap kehadiran dianggap sebagai penghalang dan pengganggu yang mencemaskan. Ada banyak kelelahan yang kemudian hadir menghantui setiap malam dalam tidurku. Bagaimana hari esok? Bagaimana aku mencapainya?

Sepanjang waktu kupandang, yang terlihat hanya kebisingan dan kebingungan. Ibarat sebuah rumah yang sangat disibukkan oleh berbagai banyak kesempatan yang harus digapai, pencapaian adalah tuntutan bagi terwujudnya kebahagiaan. Nyatanya aku melupakan satu hal, kehidupan bukan sebuah perlombaan survival untuk mengorbankan yang lain.

Rasanya terhina dengan tingkahku sendiri. Mengutuki kesalahan karena mengejar kesempatan tanpa peduli untuk merekonstruksi kehidupan yang ada di dalam diri. Sungguh, ketika kecewapun rasanya aku memang tak boleh membisu, angan-angan kembali datang membangkitkan pikiran untuk segera mencari jalan baru. Sebuah jalan yang akan membantu aku berdamai dengan kesempatan dan keinginan yang sempat hilang. Keinginan untuk tetap ‘hidup’ menjadi diri sendiri.

Maka kepada kesempatan, kusampaikan maaf telah menjadikanmu raja sampai aku lupa menyisihkan waktu dan energi menikmati angan yang sempat terabaikan. Kiranya tidak ada lagi yang harus kutunjukkan selain tanggung jawabku pada diriku sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s