Kisah yang Rebah Pada Waktu

IMG_20150509_123634[1]
foto diambil di rumah makan Warung Wareng, Batu-Malang
Dalam perjalanan panjang kehidupan, waktu dan kisah menjadi semacam teman seiring bagi banyak kisah yang masih diingat. Sore tadi bersamaan dengan tenggelamnya senja, aku kembali bertatap mata dengan kisah tentang tahap-tahap penting yang sempat dilewatinya. Dibukalah petak kisah terpendam yang ia jaga, merelakan kekecewaan dan air mata sebagai bahan ajar kehidupan.

Ditemani secangkir teh, aku duduk di depannya sambil mencoret-coret sehelai kertas kosong untuk menyusun catatan kecil. Selama hampir sepanjang petang itu ia bertutur tentang orang-orang yang telah memainkan peran penting dalam hidupnya, dan saat-saat istimewa yang pernah menghadirkan kebahagiaan, keceriaan, kekecewaan, dan apa saja pemahaman tentang dirinya sendiri.

Ia bercerita tentang awal kariernya, pengalaman kuliahnya, tentang kisah cintanya, juga soal kebanggaan atas kelahiran putranya. Banyak kejadian kecil yang diingatnya akhir-akhir ini, entah bagaimana mulanya, tanpa berpikir terlalu banyak untuk memulai, ia menceritakan apa yang muncul di pikirannya. Menjadi bahan kajian bagi yg ingin menyirami pikiran dengan pengalaman kehidupan. Sebut saja demikian. Hampir semua yang diceritakannya belum pernah aku dengar. Ini membuatku penasaran tentang apa yang akan aku ingat saat nanti berada di posisi yang sama. Apa yg nanti bisa aku kenang? Apakah nanti ingatanku bisa setajam itu untuk mengenang semua kemudian menjadikan pelajaran yg bisa mendewasakan?

Yang paling aku hargai, ia memperbolehkan aku mendengarnya dan mengambil pelajaran berharga dari kisahnya. Jika setiap kisah hidup itu unik, maka penuturan tentang pengalaman hidupnya telah memicu berjuta kenanganku sendiri dan tanpa sadar aku mulai berpikir. Kira-kira 20 tahun yg lalu aku sempat melewati pintu perbatasan antara kehidupan dan kematian. Sebuah kelahiran. Hal itu membuat aku tidak lagi beranggapan bahwa semua itu menakutkan. Cerita soal ini, yang hampir membuatku terkejut, aku sadar bahwa itu adalah sesuatu yg nantinya sangat ingin aku harapkan terjadi. Sebuah kelahiran. Jadi apa yg harus ditakutkan? Barangkali aku harus menyelami diriku dengan pertanyaan “tidakkah kau merasa ingin mengenal dirimu sendiri yang selama ini sengaja kau bungkus dengan hal-hal yang tak terlihat? Sebuah ketakutan dan kebohongan-kebohongan yg kau percayai sendiri?”. Tanya itu membuatku kembali membuka mata untuk melihat bahwa ia, perempuan yg kukenal baik ini telah melewati masa untuk menemukan potret terbaik dirinya yg pernah aku lihat dari kumpulan kisahnya. Setapak perjalanan hidup yg mendewasakan membawanya ke titik pertemuan antara pelajaran, kehidupan, dan penerimaan.

Di luar rumah, tampak sebaris awan memanjang saling bertemu kedua sisinya. Seolah mempertemukan aku dengan apa yang aku perlukan dari semua rangkuman kisah orang yang aku temui, dari teman-temanku, dan dari segala hal yang begitu akrab denganku, dari situ aku justru merasa bisa menjangkau dan menyentuh diriku. Aku telah mendengar sebagian kisah dalam upayaku mencari “tempat” paling indah dan menemukan bahwa yang paling dahsyat adalah menemukan sesuatu yang ada di dalam diriku sendiri.

Setelah sekian lama melewati pintu perbatasan antara kehidupan dan kematian, sejak itu aku ternyata telah memutuskan untuk “naik tangga” lebih dahulu dan mempercayai apa yang sedang kuperbuat. Matanya memerah menyiratkan kenangan tajam sambil terus bercerita di hadapanku, air mata meleleh dipipi tapi berusaha ditahannya, aku menatapnya tajam, seolah aku ingin tahu tentang hidupku sendiri, apakah aku hanya akan berbasa-basi dengan hidupku?

Ketika akhirnya tanganku juga mengusap air mataku sendiri, yang bagiku akhirnya terasa melegakan, semua yang semula menjadi beban bagiku langsung larut seperti dicuci oleh warna warni kisah kehidupan. Dalam detik-detik ini, waktu yang tak akan mengulang hari-hari yang menyapa dengan salam-salam pertemuan dan perpisahan, salam-salam jiwa kebahagiaan, kekecewaan, atau kesedihan. Tak ada hal lain yang kupikirkan, tak ada orang yang harus kubuat terkesan, tak ada guna mempermasalahkan yang sudah berlalu, entah keberhasilan, kegagalan, atau kesedihan. Yang ada hanya aku, Tuhanku, dan diriku yang akan tetap saling menemukan hakikatnya masing-masing di sepanjang kilometer perjalanan hidup. Menyediakan waktu penuh untuk menyeimbangkan diriku dan kebutuhan hidupku.

Terimakasih untuk cangkir teh hangat setiap paginya. Terlalu manis untuk dilupakan.

Di ruang yang membuatku bisa menyaksikan udara yg bersih dan masa depan yg cerah.
Malang, 5 Juni 2015

Advertisements

2 thoughts on “Kisah yang Rebah Pada Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s