Tentang Cara Aku dan Kita Menyambut Pagi

20150609_082130
foto diambil di taman Merbabu

Seperti pagi-pagi sebelum ini, matahari masih berlindung di sisa-sisa malam. Peralihan musim membuat udara menjadi lebih dingin, angin meniupkan dinginnya pada selaput waktu. Kali ini aku sedang duduk di beranda belakang rumah menyaksikan embun pada dedaunan, pemandangan yang setiap hari menjadi teman mengawali hari. Di belakangnya, sebuah tembok besar bercat abu-abu menari saling berpelukan menahan dingin agar tetap kokoh berdiri.

Saat-saat seperti ini, aku tak butuh banyak bicara. Menikmati semua yang aku saksikan sudah cukup memberikan kesan bahwa hidup hanyalah hidup dimana semua kejadian akan terjadi sebagaimana mestinya sesuai kehendak yang kuasa. Tentang daun yang setiap pagi setia menampung embun, memang seperti itu setiap harinya. Perihal angin yang menyelimuti selaput waktu, itu haknya setiap pagi. Dinding kokoh yang rupanya harus menahan dingin sebelum matahari terbit, begitulah adanya. Sebut saja mereka melakukan hal itu karena takdir semesta, tapi bisakah kita melihat perbedaannya dengan diri kita?

Semestinya ada, jika kita mau mengantarkan pikiran pada sebuah ruang untuk merenung. Belajar untuk ‘menafaskan’ pikiran dalam diam. Ya, setiap pagi, aku terbiasa mengajarkan kakiku melangkah ke beranda belakang sekedar menyaksikan kejadian yang selalu tak mudah dibahasakan tapi selalu lebih untuk disyukuri. Hanya jika mau menyelami kedalaman maknanya.

Bahwa pagi ini, aku harus bangun dengan cara yang berbeda. Dengan cara menyumbangkan senyuman untuk hati yang barangkali kemarin diliputi kemalangan. Menghadiahkan doa sebagai kekuatan untuk mimpi yang sampai detik ini masih diproses. Menyediakan waktu lebih pagi untuk menyambut syukur.

Begitupun kita…

Bahwa pagi ini, kita masih diberikan kesempatan untuk bernapas meski harus bersetubuh dengan dingin.

Bahwa pagi ini, masih ada waktu untuk menikmati secangkir teh hangat sambil duduk di beranda.

Bahwa pagi ini, detik waktu kembali menari memberikan kesempatan pada sekumpulan ide untuk direalisasikan.

Bahwa pagi ini, kita kembali belajar memaknai tentang hidup apapun yang terjadi di depan kita.

Bahwa pagi ini, kita belajar untuk tersenyum pada kesederhanaan untuk menghormati perbedaan.

Bahwa pagi ini, sepenuhnya diri kita diberi kesempatan mengucapkan syukur di antara sekian banyak nikmatNya.

Dan tentang pagi ini, waktu yang tersisa bagi kita adalah dan hanyalah tentang bagaimana cara mensyukurinya.

Di tempat yang menjadi gudang tafsir atas segala pikir

Malang, 25 Mei 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s