Sebuah Proses Berpikir

20150607_005303
buku-buku yang menemani malam

Pada suatu malam, aku terpesona nyala kekal kata yang membeku pada kotak kenangan. Samar-samar nalarku dibangunkan oleh angin yang bersetubuh dengan dingin. Terpaksa aku bangkit lalu kutelusuri kisah yang datang menjadi tamu utama malam ini. “Aku harus menyelesaikannya” perintahku pada diriku sendiri.

Terduduk di ruang yang sama, disudut meja kayu berwarna coklat yang selalu menarik perhatianku, ketika tumpukan kertas putih, beberapa pensil, bolpoin merah dan hitam, juga buku-buku menemani hampir seperempat waktuku. Memapah mata, tangan, dan sepiku untuk mencairkan pikiran-pikiran beku dengan menulis sebagai sebuah perayaan dari setiap kejadian yang terus berganti. Seperti pagi tadi saat matahari belum muncul ke permukaan, aku mendengar nyanyian sunyi dari buku-buku yang meminta dibunyikan halaman-halamannya. Segera kutangkap riuh suaranya untuk memberi ruang belajar bagi otak yang gersang. “Apa yang sedang aku baca?” tanyaku… “membaca setiap kejadian yang bisa menjadi bagian dari pengalaman dan penghayatan tentang diri kita sendiri.” Pertanyaan yang aku jawab sendiri setelah sempat berpikir. Lalu ketika membaca, aku sering bertanya-tanya “darimana si A mendapatkan kemampuan melakukan sesuatu itu? dari mana si B belajar keahlian itu? atau bagaimana si C menemukan jalan yang sesuai minatnya?” kenyataannya aku harus mereka-reka dan mengamati banyak hal agar menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Maka, bagaikan sebuah buku, masing-masing kejadian yang seringkali belum kita temukan jawabannya selalu menyimpan cerita dan tanda tanya, kerap menari-nari dalam memori sampai satu saat waktu memberikan kesempatan kita untuk mengetahui jawabannya. Malam masih senyap, ketika pertanyaanku tak segera terjawab sedang pikiran terdampar dalam diam.

Tak jarang hempasan keluh mengisi ruang terdalam di masa lalu, segalanya seperti sebuah sketsa daun-daun kering yang pernah terurai lewat sebuah cerita sederhana. Selama ini, aku tumbuh dari kumpulan kisah yang harus kujamu untuk mengerti mata rantai di setiap titik temunya. Sama dengan mencari tempat berdiri untuk melihat masa depan di antara sekian banyak lempeng kenangan yang terkandung hikmah. Sungguhkah, waktu adalah teman dan musuhku yang setia mengurai cerita. Kadang menelantangkanku di ranjang kemalasan tapi terkadang merupa cambuk yang menumpahkan sesal jika tak segera ditangkap dengan segenap tindakan. Dua puluh tahun usia berjalan bukan waktu yang singkat untuk meluaskan pengetahuan dan mempertajam kecerdasan tentang kehidupan. Maka aku tak boleh hanya sekedar membaca kejadian tapi harus mencarinya kemudian belajar menafsirkan karena itu adalah bagian dari catatan hidup. Jika mau memperhatikan, kita adalah kumpulan cerita yang setiap berlalu hilang sebagian, lalu kualitas macam apa yang sedang kita bangun? Wadah seperti apa yang akan kita buat untuk merebut sesuatu yang sering orang sebut ‘puncak’? Keadaan sedemikian itu membuat aku memutuskan untuk selalu merasa memiliki hak dan kewajiban menemali hati dan pikiran untuk diwujudkan dalam sebuah tindakan nyata. Tampaknya niat itu yang harus aku genggam untuk bisa menempatkan diri pada posisinya, kemampuan pada kualitasnya, dan demikianlah maka kita telah melewati jalan panjang yaitu sebuah proses berpikir.

Advertisements

4 thoughts on “Sebuah Proses Berpikir

      1. keren tulisannya. Saya selalu iri dengan tulisan-tulisan seperti ini, memanusiakan manusia dan menghidupkan benda-benda layaknya sahabat 🙂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s