Rindu yg Tertinggal pada Ayat dan RumahMu

20150407_083019
al quran

Menghabiskan waktu yg sama dalam durasi yg lama ternyata memberikan banyak pelajaran. Aku merapat dengan seorang kawan, duduk rapi, pada sebuah shaf di masjid. Kami, mengaji beberapa ayat, mengkaji beberapa maknanya dari seorang ustad yg mengeraskan suaranya lewat sound di masjid.

Sejenak, aku memandangi keluasan sajadah. Di atasnya, ada kitab yg berdiam ditinggalkan rutinitas sehari-hari. Perlahan menghilang hadirkan kesunyian berkepanjangan. “Aku tak begitu sehat” kataku dalam hati sambil memegang sampulnya yg mulai berdebu. Sekejap membuka, memperhatikan satu per satu bunyi hurufnya, terketik rapi tapi seketika membuat tenggorokan tercekik, mulut tertahan isak, telinga hanya mendengung gelisah. Sedang mata masih terus menatap dengan bisu. Bukan lantaran tak mampu membaca, hanya terlampau malu sebab jiwa tertangkap basah jatuh dalam bencana waktu meninggalkan ayat-ayatNya yg bisa mengobati keresahan hati. Tuhan, salahkah? Maaf, aku kerap mencipta jarak denganMu dan ayat-ayatMu hingga sering lama sekali tubuh ini menggigil karena dosa-dosa yang membakar hati nurani kerap lupa kuperbaiki. Sebelum kepergianku kehadapanMu, biarkan ayatMu menyusup ke tubuh menyelesaikan semua perasaan yg ingin kuselesaikan kepadaMu. Cinta yang rekah dalam penghambaan sebagai kekasih jiwa maha abadi setiap manusia yg Kau cipta.

Ada yg bergetar seperti desir kerinduan setiap kali adzanMu merayap pada tarian-tarian waktu. Aku ingin keluar, berbagi kisah di rumahMu sebelum murungku tambah lebar, mengganti lembar kesalahan dengan catatan indah di hadapanMu. Sebab sejarah waktu telah ajarkan aku untuk segera berbenah, keluar dari tempurung patahan hina dan sepi.

Kemarin, adalah tentang ayat-ayatMu yg kutinggalkan. Kemarin adalah tentang genangan dosa yg membasahi tubuh. Kemarin adalah hari ini yg diberi untuk kembali berkaca tentang dosa-dosa tak berupa supaya damai bersemayam di hati. Kemarin, doa-doa berputar di ruang dadaku menjadi ketukan maaf menggema pada semesta. Dalam wajah malam, aku tatap langit-langit masjid, merenungi usia yang berguguran, mendengar adzan yg memeluk punggung kerinduan. Bergegas bertarung dengan diri sendiri mengantarkan aku pada batas kesanggupan: melangkahkan kaki ke masjid.

Di rumah tak berpintu yg selalu membuat rindu,
Malang 16 Mei 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s