Rindu yang Terjaga Oleh Doa

Malam. Pukul 22.52. Sepanjang hari ini menyenangkan dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikan. Maklum seminggu lagi ujian akhir semester dan taarraaa semester 4 segera berakhir. Menyelesaikan satu per satu tugas cukup memakan waktu banyak, apalagi tugasnya lebih banyak berbentuk proyek membuat buku. Beruntungnya, masih banyak tersedia kopi dan mie instan yang menemani malam-malam untuk begadang. hahaha. Lihat saja, buku agenda dan list tugas sudah penuh dengan tinta merah pertanda tenggat waktu menyelesaikan sudah semakin dekat, sedang diri ini masih sering sibuk menikmati waktu untuk bersantai dengan jalan-jalan menikmati kuliner di jalanan kota.

Malam ini pula, satu buku sudah selesai dikerjakan. Tidak terlalu sulit untuk diselesaikan jika yang dimiliki adalah niat, keinginan kuat untuk serius mengerjakan tanpa gangguan facebook dan godaan menulis yang lainnya. haha. Secangkir kopi dan semangkuk mie menemani aku me-review lagi beberapa materi yang ada di buku, dibaca-baca kembali, kemudian sesekali diperbaiki kalimatnya. Oh rupanya, modem yang menancap di laptop lebih menarik perhatian dan meminta untuk tidak diabaikan, jadilah meng-close tugas ujian akhir adalah keputusan supaya otak tidak semakin panas. Maka tepat setelah menyelesaikan satu buku, dan menunda review lebih lama, aku ingin bebas dari kurungan teori untuk kemudian membaca tulisan beberapa teman di blog, sebut saja blog walking. Ah, sudah berapa lama tidak menulis? ucapku pada diriku sendiri. Jujur saja aku bingung, iya bingung mau nulis apa, tapi bagaimanapun menggunakan alasan writer’s block rasanya bukan hal yang tepat. Mengakui bahwa sedang malas mungkin lebih tepat ya? mungkin.

Dari sisi waktu, malam selalu setia menemani lembar-lembar kertas tugas yang aku kerjakan. Menulis kadang terabaikan jika kumpulan tugas sudah berkoloni meminta diselesaikan. Lagi-lagi, gagal menulis pada malam-malam sebelum ini. Oke, kali ini harus nekat mengeluarkan segala apa saja yang ada di kepala demi sebuah posting baru yang aah… dirindukan. Seperti itu, lalu?

Membaca satu per satu postingan teman-teman yang muncul di beranda blog, membuka-buka catatan beberapa bulan yang lalu, juga notifikasi yang berkali-kali memenuhi email cukup membuat aku rindu. Aku coba untuk menantang diri supaya lebih berani untuk ‘keluar’ dari posisi aman yang semakin lama membuat ketidaknyamanan karena tidak adanya kekuatan menghasilkan sesuatu yang baru. Tantangan itu bernama “self discipline” untuk kemudian tahu bagaimana dampaknya bagi diri sendiri di hari-hari berikutnya. Di satu waktu, pernah mendengar kalimat dari sebuah pengajian yang kira-kira bunyinya demikian “Istiqomah itu milik orang-orang hebat, mereka berani meninggalkan kenyamanaan untuk membangun kebiasaan baru” betapa kalimat itu sangat menggelitik dan mengusik hati untuk segera ditindaklanjuti dengan perbuatan yang sebenar-benarnya.

Satu kali… Dua hari… Tiga… Empat… Satu minggu…

Dan beberapa hari berlalu dengan tantangan “self discipline” sambil terus berdoa dan menguat-kuatkan hati untuk tetap menjaga niat. Tujuannya? sederhana saja, disisa waktu yang entah kapan berakhir, jangan sampai berlalu dengan sia-sia sedang Allah masih menitipkan waktu untukku. Demikian, setiap cerita selalu berkaitan dengan waktu yang harusnya mengajarkan kita untuk berterimakasih pada masa lalu dan perbuatan kita yang menyikapi waktu dengan bijak sebagai pelajaran.

Waktu sebagai sebuah proses, sebagaimana tugas-tugas ujian akhir yang semakin menumpuk dikarenakan waktu pengumpulannya bersamaan dalam satu minggu, maka kekuatanku untuk mendisiplinkan diri benar-benar diuji. Tanpa mengabaikan kesehatan, pola makan, dan hiburan bagi diri sendiri aku menyelesaikan beberapa tugas yang diberikan, ya sesekali lembur bolehlah. Mau bagaimana lagi? dinikmati saja sebagai sebuah proses menjadi…

Tidak perlu aku ributkan pada kisah yang tersandung oleh waktu, tidak perlu juga aku memutar pada kenyataan. Cukup melakukan perbuatan karena kerinduan yang dialamatkan pada diri sendiri juga Tuhan perihal “berdisiplin diri” yang terjaga oleh doa-doa. Betapa setiap orang berhak atas kebebasan untuk membangun kebaikan pada dirinya, selebihnya biarkan waktu yang membuktikan sekuat apa niat yang ada pada diri kita.

Selamat malam, selamat beristirahat.

Di ruang belajar yang tertempel coretan pengingat! (23.46)

Kediri, 10 April 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s