Menghangat Bersama Keluarga

Jalanan mulai lengang menyambut malam yang kian dingin. Di terminal tak lagi banyak yang sibuk beraktivitas, hanya segelintir orang yang masih terlihat berlalu lalang menghabiskan malam. Aku duduk di atas kendaraan menunggu seorang kawan sambil mengeratkan jaket dan sesekali memeriksa smartphone-ku barangkali ada message darinya. Lampu penerang jalan menyiramkan sinarnya saat seorang perempuan yang wajahnya sudah tak asing bagiku baru saja turun dari bus kota arah Surabaya.

Kali itu aku menjemputnya. Entah angin apa yang kemudian membuat kami sepakat menghabiskan sedikit waktu untuk makan di restoran dengan menu khas pizza setelah ini. Tampaknya kami seperti dua orang yang sedang merindu: ia merindukan makan pizza setelah setahun tidak menikmatinya karena kesibukan, sedang aku merindukan bau cat dan suasana resto ini saat sering menghabiskan waktu menulis.

Aku mulai bercerita mengenai pertemuanku dengan putranya kemarin sore di rumahnya. Dengan wajah riang dan tutur kata yang mengalir, anak berumur 3 tahun itu bercerita mengenai kesehariannya. Mulai dari pagi ia asik bermain dengan teman-temannya, bercerita tentang film kartun yang ditontonnya hari itu, hingga ber-adegan menelpon ayah dan bundanya dengan handphone mainan. Meskipun sebenarnya aku pun tidak paham apa yang dibicarakannya, ha ha ha. Maaf, mungkin aku terlalu sering mendengarkan bermacam teori saat kuliah hingga terlalu bodoh untuk mengerti tutur cerita yang mengalir dari adek kecil ini. he he he.

Pandangannya menerawang ketika bercerita, seperti ada kesungguhan yang keluar dari hatinya, bicaranya lancar tanpa dibuat-buat. Matanya berbinar, raut bangga terlihat dari wajahnya menunjukkan antusiasnya berbagi cerita. Aku sedang sibuk mendengarkan dengan seksama tiap kata yang ia sebutkan, melihat kefasihannya menceritakan setiap kejadian, tampaknya ia akan bisa menjadi seorang pendongeng yang hebat. He he he.

Malam ini adalah malam yang tenang, tanpa hujan dan angin. Kami menghabiskan waktu berbincang dimana banyak pelajaran tercecer di dalamnya.

Di sampingku, bundanya asik mendengarku bercerita tentang putranya sambil tersenyum bangga. Batinku ‘bahagia sekali hidupmu, bund’. Nyala lampu gantung di atas kami semakin terang memantulkan bayang-bayang lukisan di tembok, aku bisa berpikir jernih saat bundanya menjelaskan beberapa hal tentang perkembangan anaknya dan teori psikologi. Maklum, ia seorang dosen yang juga pakar anak dan sekarang sedang menyelesaikan studi S2-nya di salah satu universitas negeri di Surabaya. Sekilas tidak ada yang salah dengan semua penjelasannya, tapi ada rasa bersalah yang tiba-tiba menjalari dirinya. Sebuah bisikan yang datang dari lubuk hatinya untuk tidak lalai mendidik anaknya di antara semua kesibukan dan aktivitasnya. Ia menghela napas panjang, di dadanya berdegup harapan lalu menyelipkan doa di setiap ucapannya. Ia berdoa untuk kebaikan anaknya juga keluarganya, meskipun ada banyak sekali kekurangan dan kesempatan untuk bersama karena berbagai macam kesibukan tapi tetap tugas utamanya adalah seorang istri dan Ibu bagi anak-anaknya.
***
Kali itu seorang anak kecil berumur 3 tahun yang bahkan belum sekolah mengajarkan padaku satu hal untuk tak malu mengungkapkan rindu. Kali ini aku belajar dan percaya mengapa anak-anak selalu riang, tertawa, dan tanpa beban yaitu karena mereka berbagi dan mengerti bahwa hidup adalah mozaik cerita yang harus terus didongengkan. Bahkan, kita sebagai orang dewasa mungkin lupa sebenarnya hidup adalah rangkaian cerita yang harus direfleksikan. Sekalipun kita memilih untuk tidak berbagi cerita pada siapapun, selalu ada alasan untuk mengadukan semuanya padaNya.

Di sela obrolan kami, ada message dari seorang teman yang mengatakan:

“Tiap aku pulang, ada adik-adikku juga adik-adik sepupu yg lucu-lucu itu selalu menantikan… kadang gemes juga pengen cubit pipinya mereka”

Saksikanlah, begitu banyak orang yang kerap merindu kehadiran saudaranya, keluarganya, dan siapa saja yang dicinta. Aku percaya, tidak ada orang yang lupa perannya dalam keluarga hanya saja terlalu sibuk mengejar yang lain hingga batas terjauh yang sesungguhnya tak pernah mereka tahu. Ada banyak kemungkinan untuk sejenak bersandar mengistirahatkan pikiran, menikmati waktu berdua duduk di beranda ketika senja, membincangkan banyak hal atau sekedar menemani bermain. Mungkin kita perlu sedikit lebih peka untuk menyaksikan mereka menghangat di antara pelukan kata “keluarga”.

Malang, 29 November 2014; Resto Pizza Hut Ciliwung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s