Memantaskan Diri

Dalam kehidupan memang tak mudah membahasakan perasaan agar kuat menerima kenyataan yang kadang tak sesuai harapan. Akan selalu ada ketakutan yang tidak bisa dilawan hanya dengan tindakan dan nasehat-nasehat yang menenangkan. Kita selalu butuh tangan Tuhan sebagai pelukan yang menguatkan agar mampu kita melangkah ke depan meski air mata semakin deras menetes, peluh semakin bercucuran.

Jika mau merenung, serangkaian pertanyaan tentang kehidupan yang kerap kita alamatkan pada Tuhan seringkali menjadi rentetan alasan sebagai pembenaran atas takdir yang tak kita inginkan. Pembelaan atas nama ketidakseuaian harapan dan kenyataan. Seolah bisa meramal masa depan, seenaknya kita memaksa Tuhan menuruti setiap permintaan padahal dosa kita sepertinya belum lunas untuk di balas dengan kebaikan.

Aku membayangkan saat sendirian, sibuk merantai rencana yang diinginkan kemudian menyerahkan pada Tuhan, berharap masih ada ruang-ruang permohonan yang tersisa untuk dikabulkan kemudian berkata, “Engkau tidak keberatan kan, Tuhan mengabulkan impianku?”. Ah tapi aku mengurungkan niat untuk melakukannya, bukan karena meragukan kekuasaan Tuhan untuk mewujudkan impian-impian kecil itu. Aku lebih mengherani diriku sebagai manusia yang seringkali mendatangi Tuhan justru di saat-saat sedih dalam hidupku, kemudian baru memperhitungkannya sebagai satu-satunya jalan untuk mewujudkan segala keinginan. Kemana saja selama ini? Bukankah aku harusnya mengingat bahwa keseluruhan peristiwa kehidupan ada di balik kendali Tuhan? Lalu mengapa saat semua terasa semakin menyesakkan baru mengingat Tuhan? Rasanya aku masih terlalu bodoh untuk meminta tanpa tahu berterimakasih sedangkan syukur hanya dipanjatkan setelah pencapaian terkabulkan.

Kuletakkan saja pensil di atas kertas putih bertuliskan keinginan masa depan. Mengeratkan dua tangan dengan dua kaki yang menekuk ke dada, mempertanyakan pada nurani yang semoga bisa memberikan pencerahan.
“Aku hanya kumpulan hari yang setiap berlalu hilang sebagian diri. Sayangnya semakin berlalunya waktu, semakin banyak pencapaian yang menempel di atas badan memeras ruang otak untuk terus bergerak. Menerimanya penuh kerelaan sebagai hiasan yang wajib dimiliki setiap pribadi. Kemanapun kaki akan dilangkahkan adalah wajib hukumnya untuk menyerukan impian dan segala pencapaian mengatasnamakan diri sebagai teladan yang pantas dicontoh. Ah bukankah itu menjadi bentuk lain kesombongan diri yang dibahasakan agar orang lain dengan mudah melihatnya dari kejauhan. Dan reputasi tak lagi dipertanyakan. Membiarkan diri terpenjara oleh keinginan-keinginan dan bersembunyi di balik alasan dan keluhan adalah kesalahan besar yang aku lakukan sejak dalam pikiran. Aku harus berbenah.” Pikirku dalam hati.

Ketika kata-kata tak lagi mengenali kesedihan, berapa kali harus kukatakan untuk menyempatkan diri berterimakasih pada Tuhan kapanpun. Sebab syukur bukan lagi kewajiban melainkan kebutuhan yang mendatangkan kententraman atas apa saja bentuk takdir yang dihadiahkan Tuhan. Barangkali jika belum bisa banyak, kita mulai saja dari hal-hal kecil agar kita selalu bisa mengucap syukur apa saja yang terjadi.

Malang, 11 Februari 2015; 22.21

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s