Ayah dan Adzan Pertama

Malam ini, aku baru saja menyelesaikan separuh buku Maryamah Karpov-nya Andrea Hirata sebelum akhirnya beranjak menuju rak buku dan mengambil beberapa diary yang berjajar rapi. Sesekali membuka acak lembar halaman diary yang menyimpan cerita seorang perempuan yang tumbuh dewasa. Tak ada rindu yang membuat semakin syahdu selain membiarkan diri terperangkap dalam ruang kenangan berbariskan rangkaian cerita tentang hidup yang penuh liku dan linangan air mata.

Semuanya berawal dari merelakan diri berhadapan dengan kertas putih kosong dan keberanian untuk menulis, sebuah duel yang tak pernah mudah untuk dimenangkan. Ada ketakutan luar biasa yang membekukku ketika hendak menulis, ego adalah musuh dalam diriku yang harus berjibaku kutaklukkan. Tapi aku juga mengenal diriku yang hanya mau berhenti beraksi ketika sudah menang melawan ego. Sebab menulis adalah saksi bisu setiap pilihan nekat dalam hidupku. Maka meski semuanya akan berakhir dengan buruk, berantakan, dan belum jelas alur ceritanya akan tetap kuceritakan dengan lantang daripada bersembunyi di balik keluhan dan alasan.

Sejak kecil, setiap segi dalam hidupku memang harus diperjuangkan karena tak ada lagi pilihan untuk seenaknya meninggalkan peran sebagai manusia yang harus bertanggung jawab atas naik turunnya kehidupan. Aku dilanda takjub ketika begitu banyak kejadian yang tak terbayangkan sebelumnya terurai menjadi rindu ketika membaca lembar demi lembar diary ini. Aku rindu rumah, rindu ayahku. Bayangan orang-orang yang kucintai semakin jelas mengalir di depanku, mengalirkan aku kembali ke satu titik perjalanan ketika hidupku benar-benar dimulai. Apa kabarmu kecilku? masih kutemukan diriku yang selalu bangga menatap mata bening lelaki penyayang yang sering kupangggil Ayah. Sama, tak ada yang berubah. Lewat kalimat-kalimat sederhana yang kutuliskan jelas aku selalu melukiskan senyumnya dari balik kaca jendela yang siap menyambutku pulang ke rumah. “Sudah makan tadi? makan yuk..” ajaknya seperti biasa saat aku pulang sekolah. Aku hampir tak percaya, ia selalu mampu mengubah hal sederhana menjadi begitu mempesona yang membuatku terkenang sampai detik ini. Ataukah aku yang terlalu berlebihan mengaguminya? Rasanya tidak.

Setiap Subuh, secangkir kopi hangat dan sebuah koran di sudut ruang tamu menjadi sajian hangat untuk kami bisa santai duduk berdua menikmati udara pagi. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami, duduk berdua menikmati pagi terlampau sempurna bagi seorang anak sepertiku sebab tidak banyak waktu yang tersedia untuk bersama dikarenakan kesibukan bekerja. Sosoknya menjadi yang terpenting dalam hidupku setelah ibu tiada, namun barangkali kita kerap merasa terbatasi untuk bisa menyampaikan perasaan paling jujur padanya. Jika dulu aku tak pernah berani untuk mengatakan ini, menyimpannya hanya dalam sebuah catatan kecil sebab tak kutemukan satu pun penjelasan bagaimana dan mengapa aku harus mengatakannya, aku dapat mengatakannya dengan terang malam ini: sedang merunduk membiarkan air mata berjatuhan, mengutuki diriku sendiri yang terlampau pengecut, mengumpulkan napas.

“Entah pada napas-napas kebaikan yang mana hidupku selalu kau topang. Bisa jadi aku terlalu keras kepala untuk mengakui bahwa aku lebih baik darimu, yah. Sambil memejamkan mata dan membayangkan wajahmu, hatiku luluh mengingat adzan pertama yang dibisikkan Ayah ditelingaku. Untuk semua pengorbanan yang pernah ayah lakukan dalam diam, aku tak lagi menganggapmu terlalu dingin. Kali ini aku harus mengerti, ada banyak hal yang tak bisa kau ceritakan padaku, ada banyak hal yang tak bisa dibahasakan namun ketika mau merasakan, terlalu banyak kebahagiaan yang tak terungkapkan. Tapi kali ini, aku ingin meleburkan diriku untuk sesekali menanyakan kabarmu meski hanya lewat telepon, lagi-lagi aku tak kuasa mendengar getaran suaramu yang selalu sama seperti adzan pertama yang pernah kau bisikkan atau doa apa saja yang sempat kau hadiahkan untukku.
Begitu mendengarmu, aku hanya tersenyum hingga berlinangan air mata bercermin di kaca dan ingin kueja dengan terang sebuah kata untukmu di sana: aku menyayangimu. Demikianlah ketika aku kembali menemukan kekuatan untuk dengan lapang dan berbahagia menyampaikan rindu dan perasaan yang sebenarnya. Selebihnya, tak dapat kusembunyikan betapa mengharukan saat mengatakan “Maafkan aku Ayah. Terimakasih atas semua yang telah ayah berikan dan korbankan.” Karena tentu saja, aku tak ingin melewatkan waktu membaca isi hati untukmu Ayah sampai aku kehabisan kata-kata.
Saat seperti ini, barangkali akan menjadi saat terbaik kita untuk mengubah banyak hal dalam hidup. Dengan sebuah kalimat sederhana sebentuk bakti yang mampu dibahasakan. Hal sederhana yang aku lakukan untukmu yang akan membukakan pintu keberkahan di atap langit-langit kebaikan. Meski sederhana. Aku bersyukur, karena masih beruntung bisa mendekapmu dalam setiap kesempatan walau kapanpun aku juga bisa mendoa apa saja yang terbaik untukmu. Jarak yang jauh karena menuntut ilmu bukan lagi alasan yang harus kukekalkan untuk menghindari ungkapan sayang untukmu. Alasan macam itu tak lagi diperlukan karena sebagian orang tak memerlukan apapun untuk mengatakannya, hanya dulu aku yang terlampau pengecut. Seperti kapanpun saja aku bisa melakukan kebaikan untukmu juga mendoa keselamatan bagimu, Ayah.”

Seperti malam ini, terlantun doa untukmu yang tersayang. Semoga Ayah Baik-baik saja.
Aku ingin pulang Ayah.

Malang, 10 Februari 2015; 22.36

Tulisan ini diikutkan dalam GiveAway Tema Cinta. mau ikut? klik disini

sang pencelotehrb_iangiveawayagungmahend

ungu3-copy-copy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s