Hikmah Sakit

Malam ini saya harus tidur di rumah sakit, menemani bude (kakak dari ibu saya) yang sedang sakit dan perlu perawatan khusus. Sore tadi, keluarga datang dari Kediri menuju Malang tepatnya di RS Saiful Anwar karena harus dirujuk. Untungnya ada beberapa keluarga di Malang dan saya juga kuliah di Malang sehingga bisa leluasa menjenguk dan menemani. Karena tak ingin waktu menunggu tersia-siakan, saya menyempatkan diri untuk memanfaatkan waktu menulis di lobby lantai tiga rumah sakit.

Sore tadi saya juga berbelanja beberapa barang yang dibutuhkan di supermarket mulai dari buah hingga makanan dan minuman ringan. Melirik ke kulkas di supermarket yang banyak terdapat minuman bersoda, niat hati ingin mengambil tapi yaah tau diri lah daripada ikutan sakit. Saya urungkan niat untuk membeli minuman bersoda itu. Saya jadi berpikir, betapa nikmatnya menjadi seorang yang sehat dan jauh dari sakit. Rasa-rasanya kita semua juga paham bahwa dalam keadaan yang sehat melakukan aktivitas apapun akan terasa mudah. Ketika kita sehat, bisa jalan-jalan/bepergian kemana saja, bisa menikmati waktu bersama orang-orang terdekat, dan melakukan banyak hal yang kita inginkan. Bayangkan jika sakit? hanya bisa terbaring di rumah/rumah sakit. Tapi di luar semua itu, sakit juga salah satu bentuk anugrah dari Allah. Saya katakan anugrah karena bisa jadi sakit memberikan hikmah dan teguran bagi yang ditimpa penyakit. Bisa saja Allah menguji seorang hambanya dengan sakit karena Allah ingin tahu seberapa kuat kita menghadapi penyakit tersebut dan apakah kita masih mampu mengibadahiNya?. Tentang sakit, saya teringat sebait kalimat ust. Salim A. Fillah di twitternya

Sakit itu memperbaiki akhlak; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan untuk santun, lembut dan tawadhu

Jika kita mau merenungi setiap kejadian yang Allah hadirkan dalam hidup kita, termasuk sakit. Bukan hanya menguji ketangguhan dan kemampuan yang ada pada diri kita, sebab kita juga harus mempercayai bahwa Allah tidak akan memberikan ujian/sakit melebihi kemampuan hambanya. Jauh dari semua itu sejatinya sakit memberikan kita sebuah kemampuan untuk memaknainya.

Kesabaran kita diuji ketika sakit menimpa, apakah kita memiliki kesabaran yang lebih dari batas?. Setidaknya kita bisa bercermin pada sejarah kenabian Ayub as yang menderita penyakit aneh selama 18 tahun yang tetap sabar menghadapinya, cobalah baca buku sejarah nabi-nabi dalam islam untuk membaca kisah nabi Ayub.

Sakit mendekatkan diri kita kepada Allah. Sering saya melihat, mereka yang sedang dirimpa sakit lebih sering mengingat Allah dengan dzikir-dzikirnya yang syahdu menyebut asma Allah. Sakit bisa jadi obat rindu pada Allah karena rasanya ketika sakit, kita menjadi dekat pada Allah dengan doa-doa dan dzikir kita. Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, hanya kalimat-kalimat dzikir yang keluar sedang air mata menetes teringat dosa-dosa yang meliputi diri menggetarkan hati untuk menyapaNya? Saat sakit pula, ada kesempatan untuk bermuhasabah (memperbaiki diri), adalah saat sakit ketika kita punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali. Bahkan sakit adalah sebuah ilmu. Bukankah ketika sakit, diri ini akan memeriksa dan bertanya hingga pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya agar tidak mudah terkena penyakit. Sakit juga sebuah nasihat yang memberi kita kesempatan mengingatkan yang sehat untuk menjaga diri, yang sehat menghibur yang sakit agar mau bersabar dan tidak menyerah menghadapi sakitnya. Sakit juga memberikan nilai silaturrahim, bukankah ketika sakit banyak keluarga yang jarang kita temui datang untuk menjenguk penuh senyum dan menyapa dengan rindu mesra?

Dan pada akhirnya sakit itu membawa kita untuk selalu mengingat mati dan mempersiapkan amal untuk menyambutnya, mengetuk lembut pintu hati untuk meningkatkan derajat ketaqwaan. Sakit pula yang membuat senyum menjadi lebih indah karena mengingat bahwa Allah masih menyayangi kita, pun juga membuat kita banyak menangis mengingat betapa seringkali menyia-nyiakan nikmat sehat yang Allah berikan untuk kita. Karena itu marilah kita belajar untuk tetap tersenyum walaupun dalam keadaan sakit.

Malang, 22 Januari 2015; 22.13

Di Lobby rumah sakit, terlantun doa untuk setiap yang sakit semoga lekas sembuh…

Advertisements

2 thoughts on “Hikmah Sakit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s