Keberanian

And baby
Everytime you touch me
I become a hero
I’ll make you safe
No matter where you are
And bring you
Everything you ask for
Nothing is above me
I’m shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me

Penggalan lagu When You Tell Me That You Love Me dari Westlife dan Diana Rose menemani malam ini, sepertinya berhari-hari mengunjungi perpustakaan dan melepas penat di cafe semalam kemarin membawa suasana “nikmat” dalam versiku tentunya: santai, hilang penat, dan bebas. Secangkir kopi yang kunikmati di salah satu kedai kopi kawasan Ijen, Malang memang bukan bagian dari rencanaku hari ini, maklum biasanya aku well organized banget. Berawal dari selesai mengerjakan tugas di perpustakaan kota kemudian melanjutkan perjalanan makan dan sholat di kawasan kampus lalu berencana pulang. Namun di tengah perjalanan ketika melewati kedai kopi mendadak ingin mampir sekedar menikmati secangkir kopi yang ah… selalu menyajikan kenikmatan tersendiri. Akhirnya tanpa basa basi kuputuskan mampir bersama seorang temanku. Tentang kopi, aku teringat tulisan di salah satu kolom surat kabar beberapa bulan lalu

“Apa yang kau tahu tentang kopi sampai-sampai seorang homer melegendakan kopi sebagai minuman misterius yang punya kekuatan luar biasa tak terjelaskan?”

Meskipun baru pertama datang di kedai kopi ini dan letaknya dekat dengan pusat kota tapi suasana disini cenderung tenang, dan aku merasa nyaman. I feel like home here. Sejak kedatangan kami tadi, playlist lagu dari Westlife diputar memenuhi ruangan ini menambah hangat suasana malam. Sepertinya hal itu pula yang membuatku kecanduan -lagi- dengan lagu-lagu Westlife dan memutarnya setiap saat.

Secangkir Machiato, Kaya Toast, dan Ice Choco Pancake menjadi menu yang kami pesan. Kami memilih duduk di sudut ruangan dekat dengan pintu masuk dan tak lama kami pun tenggelam dalam obrolan tentang banyak hal termasuk hidup yang ‘bebas’.

Kopi pertama malam ini. Pahit, ada sisa manis diujungnya. Sepahit kesalahan masa lalu, semanis kenangan bersamamu, secerah harapan masa depan.

“mulai deh pujangganya beraksi.” kata temanku

“ha ha ha. Sekali-kali gombalin orang kece… kecepian maksudnya. ha ha.”

***

Sejenak aku memeriksa smartphone untuk melihat beberapa hal, termasuk beranda facebook. Hingga menemui sebuah capture inbox e-mail seorang teman dari salah satu maskapai penerbangan ternama di negeri ini. Begini kalimatnya:

“Pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana bisa sebagian orang  punya begitu banyak energi untuk terjaga sampai larut malam?

Seorang bijak pernah bilang motivasi kita adalah dorongan terbesar dari dalam yang memungkinkan kita untuk meretas batas. Mungkin mereka yang kerap tidur larut punya alasan yang kuat.”

Aku tersenyum dan bertanya pada diri sendiri “apa alasanmu sampai seringkali begadang?”. Jika dijawab, itu adalah jawaban terberat untuk dijelaskan kepada siapapun, sebab tak ada yang tahu persis kenapa aku menikmati malam untuk menyajikan cerita tentang drama yang tak jauh berbeda dari kehidupan nyata. Tapi, aku mempercayai satu hal bahwa di dalam diri seorang manusia, kita mempunyai benih-benih mimpi dan kualitas diri yang begitu prima untuk melakukan sesuatu yang kita ingini. Kita memiliki kapabilitas untuk menjadi sesuatu yang kita dambakan, anugrah itu ada sejak kita lahir. Hanya seringkali yang menjadi masalah adalah, kita tidak punya kekuatan dan keberanian untuk menyelami kualitas diri kita. Tidak ada keberanian diri untuk melihat dan menguji kualitas yang ada pada kita.

Kali ini, ada perasaan “penuh” di dalam diriku untuk membebaskan pikiran melakukan apa saja yang dingininya. Berteman kopi, buku, dan menikmati aliran waktu tanpa perlu terburu-buru. Saat malam, sendirian aku melewati setiap detiknya dengan sangat menyenangkan. Menyajikan tulisan dari sepuluh jariku dan bermimpi. Salah satu cara melepaskan sesaknya realita dan melupakan sejenak apa yang terjadi. Membangun sebuah mimpi ibarat memesan satu paket komplit berisi resiko, petualangan, harapan, kecewa, berbagai macam pelajaran yang membuat kita terus berkembang dan berjuang. Memutuskan untuk berani bermimpi adalah saat-saat “bertarung” dengan diri menuju sebuah muara yang diyakini. Pertarungan yang tak mudah untuk dimengerti. Meski begitu, ketika memutuskan berani bermimpi artinya kita juga sedang menguji ketahanan dan kekuatan diri untuk menghadapi dunia. Belajar dari mimpi, sering aku harus berani melipat rentetan rencana yang sudah tertulis rapi di kertas. Pada satu sisi merencanakan banyak hal memang sesuatu yang baik tapi di banyak kesempatan kadang harus dilupakan karena aku hanya butuh “melangkah” dan terus “melangkah” meski satu langkah. Yang ingin aku katakan disini adalah bagaimana kita bisa lebih “berani” untuk menikmati hidup sebagaimana adanya. Berani karena kita bertanggung jawab atas langkah kaki kita sendiri, bertanggung jawab pada diri sendiri.

Pada satu kondisi yang tidak bisa diprediksi, barangkali kita harus mempercayai mimpi, dan satu hal yang kita yakini “selama ada Allah pasti sempurna”.

Malang, 19 Januari 2015; 0.53

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s