GETAR KEBAIKAN DAN TEGURAN

Menjelang maghrib suasana perpustakaan kota mulai sepi, hanya beberapa orang yang bertahan sedang asyik membaca buku dan antri meminjam di loket peminjaman buku. Aku baru saja sampai di perpustakaan untuk mencari beberapa buku sebagai referensi yang menunjang materi kuliah. Tak butuh waktu lama untuk mencari, katalog digital yang tersedia di perpustakaan sangat membantu memudahkan mencari buku. Sampai ketika adzan magrib berkumandang aku mengakhiri membaca dan bergegas ke mushola. Sesibuk apapun, tak ada yang boleh mengalihkan tugas kita sebagai manusia yang harus mengibadahiNya, kan?

Setelah kira-kira satu jam melanjutkan membaca, aku berbincang dengan seorang teman yang menemaniku.

“jadi buku yang mana yang mau dipinjem?” tanyanya

“ini aja yang materinya lebih banyak, bukunya bagus lengkap juga, eh apa nanti kita sekalian ke toko buku ya liat stock bukunya ada atau enggak? Kayaknya kita juga butuh punya buku ini deh.” Aku berpendapat

“yaudah deh ayo sekalian aja.” Jawabnya meng-iya-kan

“oke jadi habis ini kita ke toko buku ya? eh tapi aku mau fotokopi materi bahasa ini dulu ya bentar, dua bab aja kok buat belajar.” ucapku

“aku tunggu di loker bawah ya. biar cepet.”

“oke.” Jawabnya sambil berlalu meninggalkan ruang perpustakaan di lantai dua.

Aku masih mengantri di tempat fotokopian sambil sesekali mengecek tulisan baru di blog dari teman-teman via smartphone. Sembari menunggu, ada banyak hal yang bisa dilakukan, bukankah menunggu itu bukan hanya soal lama atau tidak tapi bermanfaat atau tidak, kan?. Setelah selesai, kami berjalan meninggalkan perpustakaan, melanjutkan perjalanan ke toko buku.

***

Di sudut yang lain…

Laki-laki tua berjalan pelan mendorong gerobak yang penuh berisikan buah-buahan ke seberang perpustakaan. Ia sibuk menggelar dagangannya di trotoar, tepat di pojok sebelah tikungan jalan raya Ijen, Malang. Aku melirik jam di tangan, rupanya sudah pukul 19.51 dan laki-laki tua itu masih bertahan dengan dinginnya udara Malang untuk menjual dagangannya. Sekilas sambil berlalu meninggalkan perpustakaan, aku mengamati raut wajahnya yang lelah dengan tatapan mata kosong menerawang lalu lalang kendaraan di jalan. Sesudah itu kelihatan matanya mencari sekeliling, ia nampak berharap ada seorang yang mampir sekedar membeli dagangannya.

Lampu jalan yang mulai redup memberikan sedikit terang agar keberadaannya terlihat lalu lalang orang. Aku terdiam sejenak dalam bayang-bayang lampu, satu per satu tampil wajah orang-orang di sekelilingku yang juga sedang berjuang menantang kerasnya hidup. Tak bisa kubayangkan jika orang-orang yang berjuang demi kebaikan dan kesuksesan hidupku memilih menyerah. Apa aku bisa berdiri sampai disini?. Beberapa lintasan wajah-wajah keluarga di rumah hampir bersamaan muncul, lalu sebentar saja hilang.

“Ndro, nanti balik lewat jalan ini lagi ya. Mau beli buah di pojokan tadi.” Kataku meminta pada temanku

“Oh yaudah iya…”

Sepanjang jalan, ada yang sibuk mengganggu pikiranku, terbayang sendu mata laki-laki tua yang sibuk menunggu pembeli. Walau tak terlihat jelas atau aku yang terlalu pedih mengingatnya, laki-laki tua yang kulihat tadi telah mampu untuk membuatku seolah-olah dalam keadaan tak berarti apa-apa, yang telah lama berdiri dan tak sedikitpun terlihat kokoh meski ditopang oleh segala macam materi. Air mataku meleleh. Entah sudah berapa lama aku jauh antara makna keikhlasan dan kehidupan. Hati kembali bertanya, meskipun hanya pertanyaan klise kelas dua yang siapa saja bisa mengucap, namun rasanya perlu dicari jawabannya.

“Mungkin, ini satu dari sekian banyak cara Tuhan memperingatkanmu. Artinya, kamu sudah harus berhenti dengan keluyuranmu, dengan kehidupan malammu, dengan hingar bingar dunia, dengan impianmu tentang dunia semata, kamu sudah harus berhenti karena dengan mudahnya meninggalkan Tuhan, kamu harus mengerti bahwa disana ada yang sedang berjuang membuatmu berdiri disini agar masa depanmu lebih berarti. Mungkin sudah cukup kamu selalu mementingkan dirimu sendiri dan tak pernah benar-benar memperhatikan orang-orang disekelilingmu” Kataku dalam hati.

***

Sekembalinya dari toko buku, kami kembali melewati jalanan yang tadi semoga saja laki-laki tua itu masih ada.

“Jangan lupa ya ndro nanti mampir dulu di pojokan yang tadi.”

“Iya iya, ya ampun sudah berapa kali bilang sih?” sahut temanku

“nanti tunggu aja di seberang kalau kamu gak mau ikut. Aku jalan aja kesananya. Biara ga repot putar balik.”

“iya iya santai aja kenapa sih.”

Aku hanya mengangguk kecil mendengar jawabannya.

Sesampainya…

“Pak, mau beli jeruknya satu kilo…”

“sekalian dua kilo ya mbak, daritadi laku sedikit, setelah ini mau pulang.”

“oh yaudah pak sekalian dua kilo aja.”

Ada banyak hal yang mengganggu pikiranku, ingin kutanyakan pada laki-laki tua ini yang kutaksir usianya sudah 65 tahunan. “Sudah makan belum? Rumahnya jauh gak dari sini? Seharian sudah jualan kemana aja, istirahat dimana? Kalau dagangannya masih banyak gini terus gimana, pulangnya jam berapa?”. Tapi apa daya, mataku tak berkedip memandangnya yang dengan perlahan menimbang buah jeruknya. Mata yang semakin merah dan semakin basah. Seolah mau menghindarkan diri dari tangis, aku melihat jam di smartphone sambil membaca pesan masuk.

Selesai membayarnya, kami melanjutkan perjalanan pulang.

Entah angin apa yang membawaku datang pada laki-laki tua penjual buah itu, di antara bising lalu lalang kendaraan bermotor di perjalanan tiba-tiba mulut menyuara narasi tanpa paksaan, semacam usaha untuk meyakinkan diri menghindari seburuk-buruknya prasangka yang menodai niat.

“Ndro, kadang kita gak butuh alasan apapun ya untuk melakukan kebaikan meski kita tidak tahu apakah itu akan dihitung pahala atau tidak. Tentang kebaikan apa saja yang dilakukan, kita sedang berinvestasi pada Tuhan untuk masa depan kan? Kita gak perlu kan memandang apapun dan melihat siapapun, yang namanya melakukan kebaikan ya tetap kebaikan, ndro. Ukurannya bukan manusia tapi ibadah ke Allah. Kita udah kenyang ndro tadi bisa makan enak, mungkin kita juga sebenarnya bisa kok beli buah seperti ini di supermarket di lain hari bahkan kapanpun kita mau, tapi buat laki-laki tua tadi uang hasil kita beli buah tadi sangat berarti, ndro. Bisa aja buat makan, buat bayar anak-anaknya sekolah. Sebenarnya kan hutang kita banyak ke Allah, udah gak kehitung dosanya, mungkin gak bisa lunas tapi masa sih kita gak mau nolong saudara kita yang kebetulan harus bekerja dan hidup dua atau tiga kali lebih keras dari kita. Iya kan, ndro? Apa kita udah bermanfaat buat orang lain ya, Ndro?”

“Mungkin ini saatnya memikirkannya…”

“Ini bukan tentang apa untungnya buat kita, Ndro. Tapi ini tentang kebaikan yang semoga saja bisa mengetuk pintu-pintu langit. Ini tentang hidup, Ndro. Kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri kan? Barangkali saat kita tidur, ada orang-orang yang masih terjaga mendoakan kita, membantu kita menerbangkan impian-impian kita karena bebannya sudah kita ringankan. Bisa jadi kan, Ndro?

“Bersyukurlah…”

Mataku terpejam, masih terlihat bayang orang-orang di sekelilingku membuatku semakin tenggelam dalam isi hati yang kunarasikan.

Barangkali, membiarkan sesuatu yang ada berjalan seperti biasanya adalah hal yang sederhana. Namun akan terasa berat ketika kita harus membiarkan sesuatu terjadi pada diri, namun kita merasa mungkin ada yang salah pada diri kita di waktu yang bersamaan. Ah sudahlah… mungkin ini saatnya untuk kembali memanjakan diri melakukan banyak kebaikan yang juga bisa dirasakan orang lain. Semoga saja Tuhan tidak keberatan untuk memercikkan kebahagiaan pada orang-orang di sekeliling kita, atas kebaikan yang sudah kita lakukan.

***

Semoga kebaikan-kebaikan yang kita lakukan membawa doa-doa kita sampai lebih cepat mengetuk pintu-pintu langit, semacam tabungan yang akan kita bongkar di akhirat nanti…

Malang, 8 Januari 2015; 0.44

Farah Adiba N.M.

Advertisements

One thought on “GETAR KEBAIKAN DAN TEGURAN

  1. ceritamu menarik banget far, aku terharu :’)
    emm menurutku sih di awal banyak kata yang diulang, jadi bacanya harus pelan. hehe itu saranku dib. tapi tulisanmu tete[ paling kereen!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s