Hidup Kita

Menatap setiap jengkah langkah yang kita lalui seperti mengeja satu per satu kata yang pemaknaannya tak bisa diterka. Sebatas tahu bahwa itu hanyalah peredam candu tentang rindu yang menggebu. Mempercayainya cukup membuat sebaris senyum mengembang indah, merekah. Setiap kesaksian yang keluar dari mulut pernah disaksikan angin lalu diterbangkannya lebih tinggi menetap pada sesuatu yang katanya tak ternilai. Kedua tangan dilipat, sengaja disembunyikan pemiliknya di balik kantong jaket, wajahnya pucat menunjukkan sesuatu yang tak terlihat.

Lalu apa saja yang bisa diungkap dari sorot mata yang mulai meredup selain mempertahankan diri supaya tahu diri dimana harus berdiri, semacam menjauhkan diri dari eksistensi. Bukan untuk menyerah tapi melepaskan kemelekatan yang tampak. Harapannya agar selalu rendah diri sebagai manusia yang dititipi segala piranti oleh Sang Ilahi. Bumi, hanya satu titik yang tidak perlu terlalu dibanggakan, karena semua pasti dibinasakan.

Lalu hidup kita bagaimana?

Cerita kita sudah berbaris indah menghiasi ruang pustaka yang diciptakan Allah jauh sebelum kita tercipta. Kita hanyalah hadiah yang Allah titipkan pada Ibu dan Ayah. Ibu dan Ayah sering menyebut kita adalah anugrah. Jika mau memahami, tak ada satupun hal yang bisa diubah tanpa kuasaNya. Maka kita hanya ibarat segumpal debu di permukaan yang kapan saja bisa hilang jika Allah menghendaki meniupnya. Bukankah manusia dicipta untuk berbakti, mengabdi, dan mengibadahi? Jadi, ungkapan bahwa hidup, berarti, lalu mati memang harus diwujudkan oleh siapapun.

Tentang bahagia? Tak perlulah kita sibuk mencari karena bahagia itu dihati. Berlebihan pula jika kita harus menggadai waktu, uang, dan keluarga demi bahagia yang barangkali sudah lama kita cari tapi tak temu. Tak perlulah. Ah, kadang kita terlalu egois membiarkan dinding dingin bernama bahagia memisahkan kita dari hangatnya menikmati seduhan teh panas bersama seorang sahabat/anak/orangtua atau siapa saja yang sejak lama ingin memeluk. Kita sering membiarkan mereka mencinta dalam diam, membiarkan rasa itu mengendap karena kita kerap tak mengijinkannya bersuara dengan alasan “sedang sibuk”. Bukankah itu pahit? Ah… sudahlah…

Kemarilah, barang sejenak kita duduk menikmati senja…

Perlahan saat waktu mulai meninggalkan angka-angka, kita akan rindu masa-masa itu. Pada keserasian padanan kata yang sempat kita ucap, pada doa-doa yang pernah kita panjatkan, pada tiap tetes kebaikan yang kita lakukan mampu mensenyumkan bumi. Kita selalu bisa, mentertawai setiap bingkai rencana yang tak terlaksana, hanya tertawa lepas untuk membebaskan perasaan dari rasa bersalah. Kita selalu tahu benar untuk menerima apa adanya, bahwa hidup terlalu bodoh untuk didrama-tragis-kan. Meluangkan waktu berdansa adalah pilihan, mengiramakan sikap-sikap yang salah, kelak kita berharap agar bisa melangkah dengan bait-bait lagu terindah. Kita rindu, menatap wajah kita di cermin dan melihat kebodohan-kebodohan kita saja. Rasanya tak perlu dibuktikan lagi dengan banyak alasan betapa kita mendamba bahwa diri kita ada, sedang bersenang-senang dengan kisah yang dicipta oleh Allah. Atau barangkali kita rindu bermain bola yang benar-benar menikmati setiap alur permainan, setidaknya kita tidak menjadi seorang yang sia-sia menjadi pemain bola di dunia ini.

Jika berkenan, keluarkanlah tanganmu dari kantong jaket itu, maukah kau berdansa denganku? Terimalah tawaranku, maka akan selalu kugenggam tanganmu dan lalu kudoakan yang terbaik untukmu walaupun tidak kau minta.

Kediri, 31 Desember 2014; 1.48

Farah Adiba N.M.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s